Rabu, 19 Januari 2011

part 8 fiction story / cerita fiksi

. . .
5 hari setelah itu hubunganku dan Kiyoshi semakin membaik. Hari ini kami berjanji untuk bertemu ditaman. Aku menunggu nya dibangku taman dibawah pohon. Sudah 10 menit aku menunggu tapi Kiyoshi belum datang. Tak lama Kiyoshi berlari kearahku, "maaf aku telat". "tidak apa", kataku tersenyum. "jadi mau kemana?", tanya dia. "disini saja, ada yang mau aku bicarakan", jawabku. Dia duduk, dia terlihat buru-buru datang kesini. Keringatnya terus mengalir melewati wajahnya itu membuatnya terlihat sangat tampan. "maaf, tadi ada yang ku kerjakan, dan sebenarnya aku hampir lupa, hehehe", tawa kecil dengan kepala sedikit menunduk serta menggaruk kepala. Aku hanya tersenyum, lalu aku memulai pembicaraan dengan pelan dan menatap lurus kedepan, "sebenarnya aku menyuruhmu kesini karena ingin membicarakan masalah kita", aku diam sebentar dan Kiyoshi melihat kearahku dengan tenang, "aku merasa hubungan kita harus segera diakhiri". Dia terkejut, "kenapa? Apa kamu tidak bahagia bersamaku? Atau kamu tidak menyukaiku lagi?". Buru-buru aku menyahut, "bukan, bukan Kiyoshi. Aku tidak ingin hubungan kita terus dirahasiakan seperti in, pasti nanti juga akan ketahuan. Lagi pula akulah orang ketiga". Kiyoshi tampak marah, "aku tak pernah menganggapmu orang ketiga. Lagi pula kamu tak perlu memikirkan masalah hubungan kita, aku tau kamu merasa tidak tenang. Tapi aku telah berjanji aku akan menyelesaikan nya. Secepat mungkin aku akan mengatakan kepada Obama". Aku khawatir padanya, bagaimana bila Obama marah dan mencelakainya. Dan dalam pikiranku , aku mengakhiri hubunganku dengan Kiyoshi secepatnya. "apa maksudmu aku tidak perlu memikirkan nya. Kamu menganggap aku tak penting. Aku tak peduli, aku ingin kita putus. Kita berakhir disini", aku mengeraskan suaraku. Orang-orang yang disekitar kami melihat kami, untung tak ada yang mengenal kami. Kemudian aku segera bangun dan pergi. Sebelum sempat aku pergi, Kiyoshi menarik ku, "sebenarnya apa masalahmu?". Aku diam sejenak lalu mulai bicara, "aku hanya tak mau nantinya aku akan dicelakai Obama, kamu tahu dia punya kuasa. Bisa saja dia membuatku pulang keIndonesia sekarang sehingga aku tak bisa menyelesaikan kuliahku. Atau mungkin saja dia akan menyuruh orang untuk menyingkirkanku. Aku tak mau celaka hanya karena memiliki hubungan denganmu", kataku tajam dan menunjukkan keegoisanku. Kemarahan Kiyoshi semakin memuncak, "terserah padamu!? Jika itu membuatmu senang lakukan sesukamu", Kiyoshi melepaskan tangan ku dengan kasar. Aku berbalik dan meninggalkan Kiyoshi. Berusaha tetap tenang, hingga aku cukup jauh darinya dan aku tak sanggup menahan air mataku lagi. Aku hendak meraung-raung ditengah jalan namun aku tak mau disangka orang gila. Kurasa sudah cukup orang-orang melihat kearahku yang menangis. Mungkin mereka mengira aku telah dicampakan. Sampai dikamar air mata masih saja terus mengalir, kurasa aku akan menangis darah. Pikiranku memang berlebihan. Tanpa sadar aku terus menangis hingga tertiduk. Keesokan hari sungguh tak ada niat untuk kuliah, aku hanya ingin dikamar seharian. Sudah sore aku hanya ditempat tidur, duduk, berbaring, duduk, berbaring. Tak ada keinginan melakukan apapun. Tok tok tok, bunyi ketukan pintu membuat aku terkejut. "Steph, Stephani kamu didalam kan? Tolong buka pintunya", itu suara teriakan Lisa. Mau tak mau aku membuka pintu. "ada apa?", kataku lemas. "kamu kenapa? Kamu habis nangis", tanya Lisa tampak khawatir. "aku tak apa, aku hanya kurang tidur", kataku. "ooo", katanya lega lalu melanjutkan pembicaraannya, "kamu tahu? Acara pertunangan dipercepat menjadi 2 hari lagi", katanya tampak senang. Aku diam, lalu air mataku mengalir tanpa bisa aku tahan. Lisa panik, "kamu kenapa?". Aku menghapus air mataku tapi masih saja mengalir. Lalu suara tangisku pun semakin keras, aku memeluk Lisa. Lisa mencoba menenangkan aku. Setelah cukup lama aku menangis, aku pun merasa lebih baik. "kamu kenapa?", tanya Lisa. "aku tak apa, aku hanya sedang ingin menangis", berusaha untuk mengelabui Lisa. "jangan bohong padaku, aku tau kamu bukan orang yang cengeng", paksa Lisa. Aku terus saja tak mau mengatakan nya, tapi Lisa juga terus memaksaku. Akupun menceritakannya. Lisa marah setelah mendengar cerita, "bagaimana mungkin dia bisa seperti itu? Kamu juga kenpa bodoh sekali? Aku akan bicara padanya". Beginilah tadi aku tak mau cerita pada Lisa dia sangatlah emosian. "tidak, jangan katakan apapun padanya. Berjanjilah pada ku?", kataku. "tapi. . . Baiklah", dengan enggan di menyetujuiku. Tak lama dia pun pulang. Hari itu berlalu begitu saja dan aku terus memikir kan pertunangan Kiyoshi. Pagi hari ini aku pergi kuliah dengan malas, aku berangkat bersama Lisa. Kelas berlalu begitu lama, hingga sore aku bermain basket dengan temanku. Saat sedang main terpikir olehku pertunangan Kiyoshi besok. Puk, bola terlempar terkena kepalaku, hidungku berdarah dan tiba-tiba saja kepalaku pusing, semua menjadi gelap. Saat aku sadar aku klinik dekat daerah situ. Aku membuka mataku dengan perlahan, teman-temanku duduk disebelah tempat tidurku dan mereka tampak khawatir. "Steph, kamu tidak apa? Apakah kamu belum makan?", tampak khawatir. "aku tak apa. Iya, aku belum makan sejak kemaren, aku tak bernafsu makan", kataku pelan. Lisa semakin panik, "bagaimana mungkin? Karena memikirkan pertunangan itu?". Yang lain tampak bingung dan aku hanya diam menatap Lisa. "aku akan kesana untuk memberi pelajaran padanya", lanjut Lisa. Aku menarik tangan Lisa, "jangan". Lisa melepaskan tanganku dan pergi. . .

To be continue. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar