Rabu, 16 Maret 2011

kamu memang yang pertama

kamu memang pertama, sungguh pertama. Yang pertama membuat aku merasa berharap. Pertama yang membuat aku mengerti rasa sayang. Pertama yang membuat aku merasa rindu. Bahkan pertama pula membuat aku merasa sedih, kecewa, marah, benci, dah takut kehilangan. Tapi apa gunanya pertama, pada akhirnya aku tak merasa bahagia. Aku sayang tapi kamu telah mulai menghapusku dari hidupmu. Memang semua bukan salahmu karena pada awalnya aku lah yang membuangmu. Aku yang tidak perduli akan perasaanmu. Aku menyesal walau semua terlambat. Kemudian saat aku mencoba memulainya, sudah ingin bertekat. Kamu yang membuang dan tidak perduli padaku. Kamu memang sudah berubah, hanya aku yang tidak menyadarinya. Mulai dari sikap, sifat, penampilan, dan perasaanmu semua sudah berubah. Aku yang mengira kamu masih seperti dulu. Ya semua orang pasti berubah termasuk kamu. Dan bukan salahmu. Sekarang mungkin aku hanya akan melihat dan mengawasimu dari tempat yang tidak terlihat oleh mu. Agar kamu tidak pernah tau, karena aku tidak mau mengganggu kehidupan barumu bersama dia. Kamu adalah yang pertama menyayangi dan melukai aku.

Selasa, 08 Maret 2011

kumpulan puisi mata pelajaran

Puisi ala akuntansi

Wahai belahan jiwaku...
Debetlah cintaku di neraca
hatimu
Kan ku jurnal setiap transaksi
rindumu
Hingga setebal Laporan
Keuanganku
Wahai kekasih hatiku...
Jadikan aku manager investasi
cintamu
Kan ku hedging kasih dan
sayangmu
Di setiap lembaran portofolio
hatiku
Bila masa jatuh tempo tlah
tiba
Jangan kau retur kenangan
indah kita
Biarlah ia bersemayam di
Reksadana asmara
Berkelana di antara Aktiva
dan Passiva
Wahai mutiara kalbu ku
Hanya kau lah Master Budget
hatiku
Inventory cintaku yang
syahdu
General Ledger ku yang tak
lekang ditelan waktu
Wahai bidadariku.
Rekonsiliasikanlah hatiku dan
hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo
kita
Yang membalut laporan laba
rugi kita
Dan cerahkanlah laporan
arus kas kita selamanya.

Puisi ala Fisika

Archimedes dan Newton tak
akan mengerti
Medan magnet yang berinduksi
di antara kita
Einstein dan Edison tak sanggup
merumuskan E=mc2
Ah tak sebanding dengan
momen cintaku...
Pertama kali bayangmu jatuh
tepat di fokus hatiku
Nyata, tegak, diperbesar dengan
kekuatan lensa maksimum
Bagai tetes minyak milikan jatuh
di ruang hampa
Cintaku lebih besar dari bilangan
avogadro...
Walau jarak kita bagai matahari
dan Pluto
saat aphelium
Amplitudo gelombang hatimu
berinterfensi dengan hatiku
Seindah gerak harmonik
sempurna tanpa gaya pemulih
Bagai kopel gaya dengan
kecepatan angular
yang tak terbatas...
Energi mekanik cintaku tak
terbendung oleh friksi
Energi potensial cintaku tak
terpengaruh oleh tetapan gaya
Energi kinetik cintaku = -mv~
Bahkan hukum kekekalan energi
tak dapat
menandingi hukum kekekalan di
antara kita
Lihat hukum cinta kita
Momen cintaku tegak lurus
dengan momen cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai
titik ekuilibrium yang sempurna
Dengan inersia tak terhingga
Takkan tergoyahkan impuls atau
momentum gaya
Inilah resultan momentum cinta
kita...

Puisi ala Matematika

Saat aku bersua dengan
eksponen jiwamu,
sinus kosinus hatiku bergetar
Membelah rasa
Diagonal-diagonal ruang hatimu
bersentuhan dengan diagonal-
diagonal bidang hatiku
Jika aku adalah akar-akar
persamaan
x1 dan x2
maka engkaulah persamaan
dengan akar-akar
2x1 dan 2x2
Aku ini binatang jalang
Dari himpunan yang kosong
Kaulah integrasi belahan jiwaku
Kaulah kodomain dari fungsi
hatiku
Kemana harus kucari modulus
vektor hatimu?
Dengan besaran apakah harus
kunyatakan cintaku?
kulihat variabel dimatamu
Matamu bagaikan 2 elipsoid
hidungmu bagaikan asimptot-
asimptot hiperbola
kulihat grafik cosinus dimulutmu
modus ponen.... podue tollens....
entah dengan modus apa
kusingkap
logika hatimu.....
Beribu-ribu matriks ordo 2x2
kutempuh
Bagaimana kuungkap adjoinku
padamu
kujalani tiap barisan geometri
yang tak hingga jumlahnya
tiap barisan aritmatika yang tak
terhitung...
Akhirnya kutemui determinan
matriks hatimu
Tepat saat jarum panjang dan
pendek
berimpit pada pukul 10.54 6/11...

Puisi ala Biologi

seperti analgesik, kau buat aku
lupa rasanya sakit
maka kubutuh dirimu,
sembuhkan lukaku
seperti nukleotida, yang saling
berpasangan
kuingin kau tetap di sini, tak jauh
dariku
hidup memang bukan sekedar
rangkaian rumus
tapi bila sejuta feromon dijadikan
satu
hanya kau dan aku yang ‘kan
pahami sinyalnya
seperti lock and key dalam
sistem enzim
biarlah rasa itu temukan
wujudnya
seperti aliran gen yang perlahan
namun pasti
menuju kondisi stabil tak
tergoyahkan
begitu juga rasa yang kita punya
kian temukan muaranya
dalam tabung effendorf
keabadian
biarkan waktu
yang ‘kan beri nama pada rasa
itu
seperti saat reseptor temukan
targetnya
dan biarlah kunikmati sejuta
warnanya
seperti warna warni pigmen
yang kan mensintesa senyawa
anorganik
menjadi substrat bermakna …di
hatiku...

Puisi ala Kimia

Mencintaimu
Seperti
berusaha
mengisi
unsur
tanpa
elektron
sunyi
Percuma
kau
telah
terisi
tak ada
lagi ruang kosong dihatimu
Bagaimana kubisa bersama mu
kalau seperti itu?
Kau terlalu jauh untuk kugapai
Walau aku telah menambahkan
asam kuat pekat
PHku tetap tak bisa
menyamaimu
Akupun tak bisa seperti Mn dan
Cr
Yang selalu bersama-sama
Akhirnya............
Aku hanya bisa melihatmu dari
kejauhan
Memandangmu penuh
kekaguman
Tanpa reaksi yang berarti
Saat kau tersenyum
Kusembunyikan hatiku
Karena senyummu selalu
memancarkan spektrum-
spektrum emisi
yang dapat mencapai lamda
maks dihatiku
aku takut. Aku takut
bila grafik dihatiku telah
mencapai lamda maks
dan tiba-tiba nilai lamda yang
kudapat selajutnya harus jatuh
apa yang harus kuperbuat
dengan hatiku ini?
Yang terlanjur larut dalam cinta
Tolong aku tak mau tersakiti
Oleh korosifnya cinta
Apa yang harus kuperbuat?
Untuk mencapai titik akhir
cintaku
Dan mendapatkan warna
lembayung yang indah
Seperti siluet senja ketika malam
menjemput...

Puisi ala Hukum

Malam ini ijinkan aku merangkai
kata indah bagimu
Kurajut menjadi satu pasal
Yang mengandung seribu ayat
cinta
Ku ukir dalam kitab undang-
undang hukum cinta kita
Malam ini di sini di pengadilan
cinta
Betapa ingin ku ungkapkan rasa
cinta di hatiku
Dan mengetuk palu keputusan
Bahwa kau kan jadi pacarku
selamanya
Tahukah engkau? Kala kau jauh
dariku
Saat kau tak ada di sisiku
Aku bagai pesakitan di kursi
terdakwa
Menahan rasa rindu mendalam
Janganlah engkau marah dan
kesal
Hingga menjatuhiku dengan
hukuman diam
Saat aku lupa menghubungimu
tadi malam
Berikan grasi padaku bila proses
bandingku mandeg
Bila nanti cinta kita berdua mulai
tak seimbang
Bagai timbangan Dewi Yustisi
Marilah kita buka lembaran kitab
cinta kita
Yang memuat banyak kenangan
indah
Agar cinta kita tetap membara
dan tak pudar oleh debu
pelanggaran
Dan hingga tiba waktunya nanti
Sang Hakim Agung cinta
mengetukkan palu untuk
menyatukan kita selamanya
Dalam satu bendel keputusan
pengadilan
Menjalani proses hukuman
kehidupan
Dalam satu terali besi cinta..