. . .
5 hari setelah itu hubunganku dan Kiyoshi semakin membaik. Hari ini kami berjanji untuk bertemu ditaman. Aku menunggu nya dibangku taman dibawah pohon. Sudah 10 menit aku menunggu tapi Kiyoshi belum datang. Tak lama Kiyoshi berlari kearahku, "maaf aku telat". "tidak apa", kataku tersenyum. "jadi mau kemana?", tanya dia. "disini saja, ada yang mau aku bicarakan", jawabku. Dia duduk, dia terlihat buru-buru datang kesini. Keringatnya terus mengalir melewati wajahnya itu membuatnya terlihat sangat tampan. "maaf, tadi ada yang ku kerjakan, dan sebenarnya aku hampir lupa, hehehe", tawa kecil dengan kepala sedikit menunduk serta menggaruk kepala. Aku hanya tersenyum, lalu aku memulai pembicaraan dengan pelan dan menatap lurus kedepan, "sebenarnya aku menyuruhmu kesini karena ingin membicarakan masalah kita", aku diam sebentar dan Kiyoshi melihat kearahku dengan tenang, "aku merasa hubungan kita harus segera diakhiri". Dia terkejut, "kenapa? Apa kamu tidak bahagia bersamaku? Atau kamu tidak menyukaiku lagi?". Buru-buru aku menyahut, "bukan, bukan Kiyoshi. Aku tidak ingin hubungan kita terus dirahasiakan seperti in, pasti nanti juga akan ketahuan. Lagi pula akulah orang ketiga". Kiyoshi tampak marah, "aku tak pernah menganggapmu orang ketiga. Lagi pula kamu tak perlu memikirkan masalah hubungan kita, aku tau kamu merasa tidak tenang. Tapi aku telah berjanji aku akan menyelesaikan nya. Secepat mungkin aku akan mengatakan kepada Obama". Aku khawatir padanya, bagaimana bila Obama marah dan mencelakainya. Dan dalam pikiranku , aku mengakhiri hubunganku dengan Kiyoshi secepatnya. "apa maksudmu aku tidak perlu memikirkan nya. Kamu menganggap aku tak penting. Aku tak peduli, aku ingin kita putus. Kita berakhir disini", aku mengeraskan suaraku. Orang-orang yang disekitar kami melihat kami, untung tak ada yang mengenal kami. Kemudian aku segera bangun dan pergi. Sebelum sempat aku pergi, Kiyoshi menarik ku, "sebenarnya apa masalahmu?". Aku diam sejenak lalu mulai bicara, "aku hanya tak mau nantinya aku akan dicelakai Obama, kamu tahu dia punya kuasa. Bisa saja dia membuatku pulang keIndonesia sekarang sehingga aku tak bisa menyelesaikan kuliahku. Atau mungkin saja dia akan menyuruh orang untuk menyingkirkanku. Aku tak mau celaka hanya karena memiliki hubungan denganmu", kataku tajam dan menunjukkan keegoisanku. Kemarahan Kiyoshi semakin memuncak, "terserah padamu!? Jika itu membuatmu senang lakukan sesukamu", Kiyoshi melepaskan tangan ku dengan kasar. Aku berbalik dan meninggalkan Kiyoshi. Berusaha tetap tenang, hingga aku cukup jauh darinya dan aku tak sanggup menahan air mataku lagi. Aku hendak meraung-raung ditengah jalan namun aku tak mau disangka orang gila. Kurasa sudah cukup orang-orang melihat kearahku yang menangis. Mungkin mereka mengira aku telah dicampakan. Sampai dikamar air mata masih saja terus mengalir, kurasa aku akan menangis darah. Pikiranku memang berlebihan. Tanpa sadar aku terus menangis hingga tertiduk. Keesokan hari sungguh tak ada niat untuk kuliah, aku hanya ingin dikamar seharian. Sudah sore aku hanya ditempat tidur, duduk, berbaring, duduk, berbaring. Tak ada keinginan melakukan apapun. Tok tok tok, bunyi ketukan pintu membuat aku terkejut. "Steph, Stephani kamu didalam kan? Tolong buka pintunya", itu suara teriakan Lisa. Mau tak mau aku membuka pintu. "ada apa?", kataku lemas. "kamu kenapa? Kamu habis nangis", tanya Lisa tampak khawatir. "aku tak apa, aku hanya kurang tidur", kataku. "ooo", katanya lega lalu melanjutkan pembicaraannya, "kamu tahu? Acara pertunangan dipercepat menjadi 2 hari lagi", katanya tampak senang. Aku diam, lalu air mataku mengalir tanpa bisa aku tahan. Lisa panik, "kamu kenapa?". Aku menghapus air mataku tapi masih saja mengalir. Lalu suara tangisku pun semakin keras, aku memeluk Lisa. Lisa mencoba menenangkan aku. Setelah cukup lama aku menangis, aku pun merasa lebih baik. "kamu kenapa?", tanya Lisa. "aku tak apa, aku hanya sedang ingin menangis", berusaha untuk mengelabui Lisa. "jangan bohong padaku, aku tau kamu bukan orang yang cengeng", paksa Lisa. Aku terus saja tak mau mengatakan nya, tapi Lisa juga terus memaksaku. Akupun menceritakannya. Lisa marah setelah mendengar cerita, "bagaimana mungkin dia bisa seperti itu? Kamu juga kenpa bodoh sekali? Aku akan bicara padanya". Beginilah tadi aku tak mau cerita pada Lisa dia sangatlah emosian. "tidak, jangan katakan apapun padanya. Berjanjilah pada ku?", kataku. "tapi. . . Baiklah", dengan enggan di menyetujuiku. Tak lama dia pun pulang. Hari itu berlalu begitu saja dan aku terus memikir kan pertunangan Kiyoshi. Pagi hari ini aku pergi kuliah dengan malas, aku berangkat bersama Lisa. Kelas berlalu begitu lama, hingga sore aku bermain basket dengan temanku. Saat sedang main terpikir olehku pertunangan Kiyoshi besok. Puk, bola terlempar terkena kepalaku, hidungku berdarah dan tiba-tiba saja kepalaku pusing, semua menjadi gelap. Saat aku sadar aku klinik dekat daerah situ. Aku membuka mataku dengan perlahan, teman-temanku duduk disebelah tempat tidurku dan mereka tampak khawatir. "Steph, kamu tidak apa? Apakah kamu belum makan?", tampak khawatir. "aku tak apa. Iya, aku belum makan sejak kemaren, aku tak bernafsu makan", kataku pelan. Lisa semakin panik, "bagaimana mungkin? Karena memikirkan pertunangan itu?". Yang lain tampak bingung dan aku hanya diam menatap Lisa. "aku akan kesana untuk memberi pelajaran padanya", lanjut Lisa. Aku menarik tangan Lisa, "jangan". Lisa melepaskan tanganku dan pergi. . .
To be continue. . .
Rabu, 19 Januari 2011
Kamis, 13 Januari 2011
part 7 season 2 fiction story / cerita fiksi
"Stephani! Kiyoshi! Where are you?" teriak orang-orang yang mencari kami. Kiyoshi menjawab mereka, "we are here. Help us!?". Setelah sekian lama kami saling berteriak dan mencari akhirnya mereka menemukan kami, kami pun dapat keluar. Saat keluar semua telah menanti, Lisa berlari dan memelukku Lisa tampak seperti orang yang habis menangis. Begitu pula Sarah segera berlari memeluk Kiyoshi. Ada sedikit rasa cemburu namun aku tak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada yang boleh mengetahui hubungan kami. "are you okay?", tanya Obama pada kami berdua. "yeah, we are okay", jawab Kiyoshi. "I'm sorry to tell you about that story, Stephani", kata Obama penuh penyesalan. Aku tersenyum, "It's okay, look I'm okay now". "but why you can there with her?", tanya Obama penasaran. Kiyoshi hendak menjawab namun ragu, "I. , emm I . . . .", sangat ingin melanjutkan aku memotong nya dan berkata, "he tells me he lose his way when he walk in the vicinity, then he met me. Sorry I answer it, I just don't like he ramblings", kataku agar tak terdengar curiga. Obama hanya mengangguk saja. "sorry, how about the engegement event?", tanya ku penasaran. "it will pending until two weeks later", kata Sarah sedih. Aku merasa senang karena pertunangan nya ditunda, tapi aku hanya diam karena semua tampak kecewa. Lalu kami pun diantar pulang kerumah kami masing-masing. Kiyoshi dan aku turun ditempat yang sama karena rumah kami bertetangga. Kami diturunkan didepan rumah Kiyoshi. "kenapa tadi kamu berbohong", tanya Kiyoshi. Aku menundukan kepala "maaf, aku hanya takut om Obama akan melakukan hal buruk padamu". "baiklah, aku mengerti. Kemudian aku akan mengantarmu pulang", kata Kiyoshi. Aku segera menolak nya, "tidak perlu tempat ku kan cuma disebelah rumahmu". Kiyoshi yang ngotot berkata, "seorang pria tidak akan membiarkan pasangan nya pulang sendirian". Kemudian aku tersenyum dan berkata, "baiklah". Saat berada tepat didepan kostanku, Kiyoshi mencium keningku, "selamat malam", katanya. Aku tersenyum dan membalasnya, "selamat malam". Aku pun berbalik dan masuk kekamarku. Aku segera melihat keluar, Kiyoshi sudah dimenuju rumahnya. Lalu aku menjatuhkan diri ketempat tidur. Malam itu aku tidur dengan sangat nyenyak bahkan tanpa mimpi. . .
To be continue. . .
To be continue. . .
part 7 season 1 fiction story / cerita fiksi
. . .
Aku menyusuri hutan itu, semakin dalam semakin gelap pula. Tanpa sadar aku telah berjalan jauh hingga tersesat, aku melihat ke segela arah tapi semua tampak sama. Aku semakin ketakutan. Ada yang menepuk pundakku, aku takut sekali. Tanpa menoleh aku langsung berlari, "Argh TOLONG! TOLONG AKU". Dia mengejarku, aku berusaha berlari secepat yang aku bisa. Dia berhasil menangkap tanganku, aku terus meronta. "ini aku, steph, aku Kiyoshi!?", kata Kiyoshi. Lalu aku pun berhenti meronta. Aku tak berani menatap wajahnya, karena ku rasa tadi aku tampak memalukan. "kenapa kau ada disini? Kau mengikutiku?", tanyaku. "tidak, aku tadi jalan-jalan disekitar hutan. Lalu aku tersesat, kemudian bertemu dengan", jawabnya. "ooo", kataku tampak tak yakin. "lalu apa yang harus kita lakukan?", tanyaku lagi. "entah, karena kita sama-sama terserat lebih baik sekarang mencari tempat untuk beristirahat lalu besok baru mencari jalan pulang", katanya. "baiklah", sahutku. Kami pun jalan mencari tempat, namun belum sama sekali menemukan tempat untuk istirahat. "sakura, jangan jalan cepat-cepat", kataku. Lalu tiba-tiba Kiyoshi mengulurkan tangan nya. "apa?", tanyaku. "agar kamu tidak tertinggal, cepat!", kata Kiyoshi. Aku menyambut tangannya, kami bergandengan. 'dag dig dug' jantungku mulai berdetak dengan kencang. 'ada apa denganku' kataku dalam hati sambil memegang dadaku. Tangan yang sekarang menggemgam tanganku sungguh besar dan kuat, aku merasa sangat tenang. Tak lama kemudian kami menemukan tempat tampak cukup nyaman. "ayo cari kayu bakar disekitar sini", katanya. Aku dan Kiyoshi berpencar, kami menemukan cukup kayu bakar, Kiyoshi pun menyalakan nya. Kami duduk didekat api yang cukup hangat. Kami berdua diam, tak ada yang bicara, kadang aku melirik padanya. "kurasa sudah cukup malam, lebih baik kita segera tidur, aku akan mematikan apinya. Kami berada didua sisi berbeda, aku menyandarkan diri dipohon begitu pula dengan Kiyoshi. Aku tak bisa tidur karena gelap dan takut, tapi dia terlihat sudah memejamkan mata. Aku terus was-was, "apa yang kau lakukan? Cepat lah tidur", kata Kiyoshi tiba-tiba dan membuat ku terkejut. "a. . aku tak bisa tidur. Aku takut", kataku sambil menundukan kepala. Kiyoshi langsung berdiri dan duduk disebelahku. "apa yang kau lakukan?", tanya ku dengan penuh curiga dan segera menaruh kedua tangan ku diatas dada. "jangan bodoh, aku tak bernafsu sedikit pun padamu, biarpun sekarang kamu sedang tak berpakaian", katanya tenang sambil memejamkan mata. Aku merasa kesal dan memukulnya. Tapi Kiyoshi menangkap tanganku, aku segera melepaskannya. "hei jangan terlalu pede, kamu kira aku mau dengan mu", kataku marah. Lalu kami diam, aku masih belum bisa tidur. "sakura, sakura apakah kamu sudah tidur?", tanyaku pelan. "ada apa?", jawabnya sinis. "boleh tanya?", tanyaku lagi. "apa?", balasnya singkat. "apakah kamu mencintai Sarah ?", aku bertanya dengan takut-takut. Dia melihat kearahku, lalu memejamkan mata lagi, "bukan urusanku". Seakan aku sudah tahu jawabannya aku beralih kepertanyaan selanjutnya, "mengapa kamu mau menikah dengannya?". Kali ini dia terus melihat kearahku dan berkata, "bukan urusanmu". Dia masih menatapku, tanpa aku mengerti aku merasa sidikit senang. Aku tersenyum dan berkata padanya, "terima kasih". Kiyoshi tak melihat kearahku lagi, tapi dia tidak mencoba untuk tidur atau memejamkan mata. Dia tiba-tiba berkata, "tadi aku mengikutimu, saat kamu keluar aku mengikutimu. Kamu berdiri sebelah Obama, tapi aku tak tahu apa yang kalian bicara. Lalu tiba-tiba saat Obama berjalan masuk, kamu malah pergi masuk kehutan. Dan aku mengikuti mu". Aku tidak terlalu terkejut kemudian aku bertanya padanya, "mengapa kamu mengikuti ku?". Sebelum sempat dia menjawab aku memotongnya, "jangan menjawab bukan urusanmu". Dia sempat terdiam lalu berkata, "aku hanya penasaran". "sungguh kamu hanya penasaran?", aku mendesaknya. "iya", katanya singkat, "aku ingin pergi mencari udara segar sebentar", katanya lagi. Dia berdiri dan berjalan pergi. Aku sempat terdiam, lalu bangun dan mengejarnya. Aku menarik tangan nya, "tunggu! Benarkah hanya penasaran?", aku mencoba memastikan nya sekali lagi. "iya", katanya pelan. Aku melepaskan tangan nya, "maaf", aku berbalik pergi dan entah mengapa semangat ku yang tadinya menggebu-gebu seakan hilang begitu saja. Aku terkejut, ada yang memeluk ku dari belakang dan aku tahu bahwa itu Kiyoshi. "aku mengkhawatirkan, sangat mengkhawatirkan mu makanya aku menyusul mu", suaranya terdengar sangat jelas karena dia berbicara tepat ditelingaku, suaranya terdengar begitu lembut. Aku berbalik dan saling menatap, dengan perlahan wajah semakin dekat padaku. Aku memejamkan mata bibir nya menyentuh bibirku dengan lembut. Aku sangat bahagia, dalam benak ku 'tak apa aku tak menemukan danau itu, karena aku telah menemukan hal yang lebih indah dari apapun. Esok hari nya aku terbangun dan orang yang pertama aku lihat adalah Kiyoshi. Percaya atau tidak tapi itu memang dia, tangan merangkul bahuku membuatku merasa sangat aman. Sungguh masih sulit untuk percaya kejadian semalam. Aku masih menatap nya 'ternyata dia lebih tampan bila terlihat dari dekat' dalam benakku. Aku tak tahu kalau hidungnya begitu mancung, lalu aku menyentuh hidungnya. Tiba-tiba dia menangkap tanganku, "apakah aku begitu tampan hingga kamu terus menatapku", katanya. Aku terkejut lalu menundukan kepalaku karena malu. "Stephani, Kiyoshi?", terdengar suara teriakan orang yang mencari kami. Kami segera berdiri dan Kiyoshi balas berteriak "kami disini! Tolong!?".
Aku menyusuri hutan itu, semakin dalam semakin gelap pula. Tanpa sadar aku telah berjalan jauh hingga tersesat, aku melihat ke segela arah tapi semua tampak sama. Aku semakin ketakutan. Ada yang menepuk pundakku, aku takut sekali. Tanpa menoleh aku langsung berlari, "Argh TOLONG! TOLONG AKU". Dia mengejarku, aku berusaha berlari secepat yang aku bisa. Dia berhasil menangkap tanganku, aku terus meronta. "ini aku, steph, aku Kiyoshi!?", kata Kiyoshi. Lalu aku pun berhenti meronta. Aku tak berani menatap wajahnya, karena ku rasa tadi aku tampak memalukan. "kenapa kau ada disini? Kau mengikutiku?", tanyaku. "tidak, aku tadi jalan-jalan disekitar hutan. Lalu aku tersesat, kemudian bertemu dengan", jawabnya. "ooo", kataku tampak tak yakin. "lalu apa yang harus kita lakukan?", tanyaku lagi. "entah, karena kita sama-sama terserat lebih baik sekarang mencari tempat untuk beristirahat lalu besok baru mencari jalan pulang", katanya. "baiklah", sahutku. Kami pun jalan mencari tempat, namun belum sama sekali menemukan tempat untuk istirahat. "sakura, jangan jalan cepat-cepat", kataku. Lalu tiba-tiba Kiyoshi mengulurkan tangan nya. "apa?", tanyaku. "agar kamu tidak tertinggal, cepat!", kata Kiyoshi. Aku menyambut tangannya, kami bergandengan. 'dag dig dug' jantungku mulai berdetak dengan kencang. 'ada apa denganku' kataku dalam hati sambil memegang dadaku. Tangan yang sekarang menggemgam tanganku sungguh besar dan kuat, aku merasa sangat tenang. Tak lama kemudian kami menemukan tempat tampak cukup nyaman. "ayo cari kayu bakar disekitar sini", katanya. Aku dan Kiyoshi berpencar, kami menemukan cukup kayu bakar, Kiyoshi pun menyalakan nya. Kami duduk didekat api yang cukup hangat. Kami berdua diam, tak ada yang bicara, kadang aku melirik padanya. "kurasa sudah cukup malam, lebih baik kita segera tidur, aku akan mematikan apinya. Kami berada didua sisi berbeda, aku menyandarkan diri dipohon begitu pula dengan Kiyoshi. Aku tak bisa tidur karena gelap dan takut, tapi dia terlihat sudah memejamkan mata. Aku terus was-was, "apa yang kau lakukan? Cepat lah tidur", kata Kiyoshi tiba-tiba dan membuat ku terkejut. "a. . aku tak bisa tidur. Aku takut", kataku sambil menundukan kepala. Kiyoshi langsung berdiri dan duduk disebelahku. "apa yang kau lakukan?", tanya ku dengan penuh curiga dan segera menaruh kedua tangan ku diatas dada. "jangan bodoh, aku tak bernafsu sedikit pun padamu, biarpun sekarang kamu sedang tak berpakaian", katanya tenang sambil memejamkan mata. Aku merasa kesal dan memukulnya. Tapi Kiyoshi menangkap tanganku, aku segera melepaskannya. "hei jangan terlalu pede, kamu kira aku mau dengan mu", kataku marah. Lalu kami diam, aku masih belum bisa tidur. "sakura, sakura apakah kamu sudah tidur?", tanyaku pelan. "ada apa?", jawabnya sinis. "boleh tanya?", tanyaku lagi. "apa?", balasnya singkat. "apakah kamu mencintai Sarah ?", aku bertanya dengan takut-takut. Dia melihat kearahku, lalu memejamkan mata lagi, "bukan urusanku". Seakan aku sudah tahu jawabannya aku beralih kepertanyaan selanjutnya, "mengapa kamu mau menikah dengannya?". Kali ini dia terus melihat kearahku dan berkata, "bukan urusanmu". Dia masih menatapku, tanpa aku mengerti aku merasa sidikit senang. Aku tersenyum dan berkata padanya, "terima kasih". Kiyoshi tak melihat kearahku lagi, tapi dia tidak mencoba untuk tidur atau memejamkan mata. Dia tiba-tiba berkata, "tadi aku mengikutimu, saat kamu keluar aku mengikutimu. Kamu berdiri sebelah Obama, tapi aku tak tahu apa yang kalian bicara. Lalu tiba-tiba saat Obama berjalan masuk, kamu malah pergi masuk kehutan. Dan aku mengikuti mu". Aku tidak terlalu terkejut kemudian aku bertanya padanya, "mengapa kamu mengikuti ku?". Sebelum sempat dia menjawab aku memotongnya, "jangan menjawab bukan urusanmu". Dia sempat terdiam lalu berkata, "aku hanya penasaran". "sungguh kamu hanya penasaran?", aku mendesaknya. "iya", katanya singkat, "aku ingin pergi mencari udara segar sebentar", katanya lagi. Dia berdiri dan berjalan pergi. Aku sempat terdiam, lalu bangun dan mengejarnya. Aku menarik tangan nya, "tunggu! Benarkah hanya penasaran?", aku mencoba memastikan nya sekali lagi. "iya", katanya pelan. Aku melepaskan tangan nya, "maaf", aku berbalik pergi dan entah mengapa semangat ku yang tadinya menggebu-gebu seakan hilang begitu saja. Aku terkejut, ada yang memeluk ku dari belakang dan aku tahu bahwa itu Kiyoshi. "aku mengkhawatirkan, sangat mengkhawatirkan mu makanya aku menyusul mu", suaranya terdengar sangat jelas karena dia berbicara tepat ditelingaku, suaranya terdengar begitu lembut. Aku berbalik dan saling menatap, dengan perlahan wajah semakin dekat padaku. Aku memejamkan mata bibir nya menyentuh bibirku dengan lembut. Aku sangat bahagia, dalam benak ku 'tak apa aku tak menemukan danau itu, karena aku telah menemukan hal yang lebih indah dari apapun. Esok hari nya aku terbangun dan orang yang pertama aku lihat adalah Kiyoshi. Percaya atau tidak tapi itu memang dia, tangan merangkul bahuku membuatku merasa sangat aman. Sungguh masih sulit untuk percaya kejadian semalam. Aku masih menatap nya 'ternyata dia lebih tampan bila terlihat dari dekat' dalam benakku. Aku tak tahu kalau hidungnya begitu mancung, lalu aku menyentuh hidungnya. Tiba-tiba dia menangkap tanganku, "apakah aku begitu tampan hingga kamu terus menatapku", katanya. Aku terkejut lalu menundukan kepalaku karena malu. "Stephani, Kiyoshi?", terdengar suara teriakan orang yang mencari kami. Kami segera berdiri dan Kiyoshi balas berteriak "kami disini! Tolong!?".
Rabu, 12 Januari 2011
part 6 fiction story / cerita fiksi
"steph ada surat buat kamu", teriak ibu Naomi yang merupakan ibu kost tempat aku tinggali. Aku berlari turun mengambil surat dan segera naik lagi. Aku tak pernah menerima surat sebelum nya, aku segera membuka surat itu. Aku terkejut ternyata itu adalah undangan pertunangan Kiyoshi. Aku menaruh surat itu diatas ranjang, dan berjalan ke jendela. Aku melihat Kiyoshi diluar menuju taman bersama teman-teman. Pipiku basah tanpa aku sadari, aku mengusapnya. "aku hanya kelilipan", kataku pada diriku sendiri. Kemudian aku menjatuhkan diriku diatas tempat tidur dan terlelap. Esok paginya aku terburu-buru kekampus karena lupa menyetel alarm. Saat dikampus teman-teman membicara kan masalah pertunangan Kiyoshi. Aku hanya diam dan mendengar, aku tak menyangka akan secepat itu beritanya tersebar. Saat selesai mengikuti pelajaran hari itu aku pun pulang dan berganti pakaian. Saat ingin merebah kan diri ke tempat tidur. Bruakk. Lisa masuk kekamarku seperti dikejar hantu dan membuat aku bingung. "kamu belum siap-siap? Hari ini kan pertunangan Kiyoshi?", kata Lisa tampak panik. Aku baru sadar, "Lisa sepertinya aku gak pergi. Aku belum mempersiapkan apapun. Kadonya pun tidak ada", kata ku mencari alasan karena terasa berat untuk kesana. "aku tahu pasti kamu akan lupa, dia langsung mengeluarkan sebuah gaun yang indah dan menyuruhku memakainya awalnya aku menolak tapi karena Lisa terus memaksa, aku hanya bisa menurutinya. Lisa bahkan telah menyiapkan kadonya. Kami berangkat, suasana disana sungguh berbeda semua tampak megah. Banyak pejabat dan orang-orang yang berkedudukan tinggi disana. Kami berjalan menyusuri villa megah yang terdapat diatas bukit dan dikiri nya adalah hutan sedang sebelah kanan terdapat pemandangan yang luar biasa indah. Saat berjalan dalam villa yang penuh sesak aku melihat Kiyoshi dan Sarah yang berada diluar jendela, mereka tampak bahagia. Tiba-tiba Kiyoshi menyadari keberadaanku dan melihat kearahku, aku segera membuang muka dan pergi dari sana. Aku berjalan keluar kearah pinggiran hutan, aku melihat seseorang disana. "om Obama", tegur ku pada orang itu. "hi stephani. What are doing here?", tanya Obama. Aku berdiri disebelahnya, "nothing just looking for fresh air. And you?", aku balik bertanya. "same", jawabnya singkat. Kami terdiam sejenak lalu aku kembali bertanya, "why you just see to the forest?". "I ever lost my way there", katanya. Aku hanya diam dan menatap kearahnya, dia pun melanjutkan ceritanya, "I looked for my way until I give up. I thought I will die there, and no one could find me. But I like saw light not far from me, I follow that light. I think that a way for me to out from there. Then you know what I see?", dia melihat kearahku. Aku terus diam dan menatapnya, dia tersenyum dan kembali melihat kearah hutan, dia melanjutkan ceritanya, "I just saw a lake, really beautifull lake. I stoped to walk, I be quiet for a moment, then I feel calm. I told to my self if I die there, I will die without remorse. After that I fall down, I think I've died. When I opened my eyes I see sun, and they found me", Obama tersenyum cukup lama. "that's my beauty memory ever I had", katanya. "never try to go there. Okay?", Obama menepuk pundak ku dan pergi. Aku terus menatap kearah hutan dan yang terpikir oleh ku adalah 'apakah aku akan menemukan danau yang bisa membuat seseorang tak akan menyesal bila harus setelah melihatnya'. Tanpa aku sadari aku berjalan kedalam hutan itu dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Aku berjalan semakin dalam, dalam, dan dalam. . .
To be continue. . .
To be continue. . .
Senin, 10 Januari 2011
part 5 season 2 fiction story / cerita fiksi
Airmataku terus mengalir tanpa aku sadari. Aku melanjutkan makian ku, "kau gila? Apa kau ingin mat. . .", kata itu tak sempat terucap. Kiyoshi menarikku dan langsung mencium bibirku. Aku tidak marah malah aku merasa lebih tenang karena bibir nya yang begitu hangat menyentuh bibirku. Aku memejamkan mata dengan perlahan, aku merasa hanya ada kami berdua saja. Dan dorr aku tersadar kami berada ditengah jalan yang ramai dan aku berciuman dengan Kiyoshi. Aku segera melepaskan diri. Menyentuh bibirku sambil menatap nya. Kemudian aku lari kemana pun aku bisa tanpa tahu arah dan tujuanku. Dan Kiyoshi masih berdiri disana, diam dan aku rasa dia juga shock dengan hal tadi. Akhirnya aku berhenti karena lelah dan aku mulai bicara pada diriku sendiri, "apa yang kulakan? Itu ciuman pertamaku, bagaimana mungkin itu terjadi? Seharusnya tadi aku menamparnya baru pergi. Bodohnya aku".
Ditempat kejadian, pria itu sudah K.O. dan Kenji hanya terluka sedikit. "kak Kenji tadi Kiyoshi mengikuti Stephani. Apakah kita harus menyusul?", tanya Lisa. Kenji tersenyum dan berkata dengan santai, "tidak perlu, aku rasa ini akan bertambah menarik", semua tampak bingung. Begitu lah yang diceritakan Lisa saat aku pulang, aku tidak menceritakan kejadian itu.
Setelah kejadian hari itu setiap kami berdua bertemu tidak lagi bertengkar melainkan kami selalu salah tingkah. Hal ini membuat teman-teman yang lain bingung dan curiga. Sampai-sampai Lisa terus bertanya kejadian hari itu padaku dan aku hanya bisa meyakinkan nya bahwa malam itu tidak terjadi hal apapun. Akhirnya Lisa berkata dia percaya. Ya walau aku tahu sebenarnya dia masih curiga, paling tidak dia tidak bertanya lagi. Dan sejak saat itu pula banyak gosip, ada yang mengatakan kami jadian sampai hanya untuk mencari perhatian. Bahkan ada juga yang bertaruh berapa lama kami akan sanggup bertahan agar tidak bertengkar. Aku dan Kiyoshi tidak bisa melakukan hal apapun. Dan malam itu hanya kami berdua yang tahu. . .
To be continue. . .
Ditempat kejadian, pria itu sudah K.O. dan Kenji hanya terluka sedikit. "kak Kenji tadi Kiyoshi mengikuti Stephani. Apakah kita harus menyusul?", tanya Lisa. Kenji tersenyum dan berkata dengan santai, "tidak perlu, aku rasa ini akan bertambah menarik", semua tampak bingung. Begitu lah yang diceritakan Lisa saat aku pulang, aku tidak menceritakan kejadian itu.
Setelah kejadian hari itu setiap kami berdua bertemu tidak lagi bertengkar melainkan kami selalu salah tingkah. Hal ini membuat teman-teman yang lain bingung dan curiga. Sampai-sampai Lisa terus bertanya kejadian hari itu padaku dan aku hanya bisa meyakinkan nya bahwa malam itu tidak terjadi hal apapun. Akhirnya Lisa berkata dia percaya. Ya walau aku tahu sebenarnya dia masih curiga, paling tidak dia tidak bertanya lagi. Dan sejak saat itu pula banyak gosip, ada yang mengatakan kami jadian sampai hanya untuk mencari perhatian. Bahkan ada juga yang bertaruh berapa lama kami akan sanggup bertahan agar tidak bertengkar. Aku dan Kiyoshi tidak bisa melakukan hal apapun. Dan malam itu hanya kami berdua yang tahu. . .
To be continue. . .
part 5 season 1 fiction story / cerita fiksi
. . .
Besok aku harus kuliah seperti biasa karena liburan musim panas hanya sampai hari ini. "huh!? Aku harus membuat hari terakhir menjadi hari yang paling memuaskan dalam hidupku. Maka dari itu aku akan tidur sampai puas", kataku pada diriku sendiri. TOK TOK TOK, ada yang mengetuk pintu dengan sangat kencang. "iya, tunggu", teriakku. Saat aku membuka pintu aku sungguh tak menyangka bahwa itu adalah Kiyoshi. Dia langsung menarikku, "hei sakura kita mau kemana?", kataku pada Kiyoshi. Dia hanya diam hingga sampai didepan rumah nya dan ada seorang gadis yang penuh luka. "ini ulahmu kan?", kata Kiyoshi kasar. "iya. Lalu apa urusan nya denganmu?", kataku. "dia adik sepupuku. Jadi ini tentu berurusan denganku. Dia baru pertama kesini", Kiyoshi menjelaskan. Aku mulai marah mengingat kejadian kemaren, "o ternyata dia adik mu, katakan padanya disini bukan tempatnya. Jadi bersikaplah lebih sopan". Adik sepupunya hanya diam sambil menundukan kepala. Kiyoshi tampak bingung, "apa maksudmu?". Aku mulai menceritakan kejadian kemaren, "saat aku, Lisa, dan yang lain sedang duduk ditaman, dia tiba-tiba datang dan mengurusi. Apa dia pikir taman itu miliknya. Aku marah, lalu dia malah berteriak semakin keras pada kami. Emosiku meledak dan terjadilah hal seperti ini". "tapi tak seharusnya kamu membuatnya seperti ini apalagi kalian keroyokan", Kiyoshi ngotot. Lalu tiba-tiba datang seorang pria yang tampak awut-awutan datang dan "Buk!?" dia memukul dengan kuat hingga terlempar kebelakang. "jadi kamu yang berani memukul adik ku ini. Aku rasa kamu akan segera hancur karena berani menyentuh adik ku", katanya tampak beringas. Lalu gadis itu tersenyum kecil. Aku berdarah, dan Kiyoshi mencoba menahan pria itu yang akan memukul ku lagi. "sudah kak, aku yang akan mengurusnya", kata Kiyoshi. Tak lama datang teman-teman ku dan juga Kiyoshi datang, dan asli mereka adalah preman daerah sini. Dan jumlah mereka sangat banyak hingga ratusan, itu belum dihitung dengan jumlah yang diluar daerah itu. Aku pun tak pernah menyangka bisa mempunyai teman seperti mereka, tapi aku senang karena mereka sangat baik padaku. "hei kau, apa yang kau lakukan pada stephani. Berani sekali kau memukulnya", kata salah seorang dari mereka. Lalu muncul seseorang dari kerumunan dan itu Kenji. Dia pemimpin dari mereka semua dia tampak tampan dengan tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih dan halus, serta senyumnya yang manis. "mau apa kalian? Jelas ini salah perempuan itu yang memukul adik ku", dia mencoba membela diri dan memberanikan diri. "hei apakah kau tak tahu kalau adikmu yang memulai?", sahut salah seorang dari mereka. Kenji mulai angkat bicara, dia terlihat sangat dingin dan bicara dengan sopan. "sebenarnya ini hanya masalah antar perempuan untuk apa kita ikut campur", Kenji diam, semua masih menatapnya. "tapi karena kamu telah campur tangan duluan, maka ini bukan lagi masalah antara perempuan lagi", dia melanjutkan sambil tersenyum, "nah ayo kita selesaikan ini berdua saja, tapi sebelum itu stephani sebaiknya kamu pergi. Aku tahu kamu pasti tidak akan suka dengan hal seperti ini". Aku dengan susah payah berdiri dan kepalaku masih sangat pusing. Ada dari mereka yang ingin menolongku, aku melambai padanya dengan maksud aku bisa berdiri. Aku tersenyum pada Kenji dan pergi dengan sempoyongan. Aku merasa ada yang mengikuti tapi aku membiarkan nya saja, aku tahu paling itu hanya salah satu dari yang lain. Terdengar suara saling baku hantam dan aku hanya terus pergi, aku akan pergi sejauh yang aku bisa bila dalam keadaan seperti ini, entah mengapa ini bisa membuatku lebih tenang. Aku hendak secepat mungkin pergi hingga disuatu jalan raya, saat ini aku sungguh tak berpikir untuk pergi kepenyebrangan jalan. Aku memilih terus berjalan, baru beberapa langkah aku berjalan "tit tit" bunyi klakson mobil dan aku merasa akan mati disini. Ada yang menarik tanganku dan memeluk dengan erat. Saat kulihat ternyata yang dari tadi mengikuti dan menolongku sekarang adalah Kiyoshi. Aku segera melepaskan diri dan ingin menyeberang lagi dan dia menarik ku. "apa kau mau mati?" teriaknya padaku. "bukan urusanmu", kataku sambil melepaskan tangannya dan ingin menyebrang lagi. Dia menarik ku kembali. "apa kesalahan ku? apa kau begitu membenciku hingga kau lebih memilih mati?", katanya dengan sangat marah. Mengingat masalah tadi aku masih sangat emosi, "iya, aku sangat membencimu. Aku lebih baik harus mati daripada harus disini bersamamu". Dengan ekspresinya yang sangat marah, "baik, kalau begitu silahkan mati". Mendengar perkataan nya membuat bertambah marah tanpa pikir panjang aku langsung berdiri ditengah jalan. Dan ada mobil dengan kecepatan cukup tinggi melintasi jalan itu dan akan segera menabrakku. Tiba-tiba kiyoshi berlari kearahku dan memelukku sangat erat. Dan aku hanya bisa berteriak, "APA YANG KAU LAKUKAN? KAU INGIN MATI? PERGI! PERGI!", mencoba melepaskan diri agar dapat mendorongnya dari situ, namun tenaganya sangat kuat hingga membuat ku benar-benar tak bisa bergerak. Mobil itu semakin mendekat dan aku segera memejamkan mata. "criitt!?", mobil itu mengerem dan berhenti beberapa senti dari kami. Sang pemilik mobil marah dan berteriak dalam mobil, "apa kalian gila?", dan banyak caci maki yang keluar dari mulutnya. Dan itu membuatku sadar bahwa kami masih selamat, kami tidak menghiraukan orang yang terus mengomel itu. Kiyoshi melepaskan pelukannya, dan aku menatap kearahnya. Aku marah "kau bodoh? Bagaimana jika kau mati?", aku memukul-mukulnya dan tanpa sadar aku airmataku ikut mengalir.
Besok aku harus kuliah seperti biasa karena liburan musim panas hanya sampai hari ini. "huh!? Aku harus membuat hari terakhir menjadi hari yang paling memuaskan dalam hidupku. Maka dari itu aku akan tidur sampai puas", kataku pada diriku sendiri. TOK TOK TOK, ada yang mengetuk pintu dengan sangat kencang. "iya, tunggu", teriakku. Saat aku membuka pintu aku sungguh tak menyangka bahwa itu adalah Kiyoshi. Dia langsung menarikku, "hei sakura kita mau kemana?", kataku pada Kiyoshi. Dia hanya diam hingga sampai didepan rumah nya dan ada seorang gadis yang penuh luka. "ini ulahmu kan?", kata Kiyoshi kasar. "iya. Lalu apa urusan nya denganmu?", kataku. "dia adik sepupuku. Jadi ini tentu berurusan denganku. Dia baru pertama kesini", Kiyoshi menjelaskan. Aku mulai marah mengingat kejadian kemaren, "o ternyata dia adik mu, katakan padanya disini bukan tempatnya. Jadi bersikaplah lebih sopan". Adik sepupunya hanya diam sambil menundukan kepala. Kiyoshi tampak bingung, "apa maksudmu?". Aku mulai menceritakan kejadian kemaren, "saat aku, Lisa, dan yang lain sedang duduk ditaman, dia tiba-tiba datang dan mengurusi. Apa dia pikir taman itu miliknya. Aku marah, lalu dia malah berteriak semakin keras pada kami. Emosiku meledak dan terjadilah hal seperti ini". "tapi tak seharusnya kamu membuatnya seperti ini apalagi kalian keroyokan", Kiyoshi ngotot. Lalu tiba-tiba datang seorang pria yang tampak awut-awutan datang dan "Buk!?" dia memukul dengan kuat hingga terlempar kebelakang. "jadi kamu yang berani memukul adik ku ini. Aku rasa kamu akan segera hancur karena berani menyentuh adik ku", katanya tampak beringas. Lalu gadis itu tersenyum kecil. Aku berdarah, dan Kiyoshi mencoba menahan pria itu yang akan memukul ku lagi. "sudah kak, aku yang akan mengurusnya", kata Kiyoshi. Tak lama datang teman-teman ku dan juga Kiyoshi datang, dan asli mereka adalah preman daerah sini. Dan jumlah mereka sangat banyak hingga ratusan, itu belum dihitung dengan jumlah yang diluar daerah itu. Aku pun tak pernah menyangka bisa mempunyai teman seperti mereka, tapi aku senang karena mereka sangat baik padaku. "hei kau, apa yang kau lakukan pada stephani. Berani sekali kau memukulnya", kata salah seorang dari mereka. Lalu muncul seseorang dari kerumunan dan itu Kenji. Dia pemimpin dari mereka semua dia tampak tampan dengan tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih dan halus, serta senyumnya yang manis. "mau apa kalian? Jelas ini salah perempuan itu yang memukul adik ku", dia mencoba membela diri dan memberanikan diri. "hei apakah kau tak tahu kalau adikmu yang memulai?", sahut salah seorang dari mereka. Kenji mulai angkat bicara, dia terlihat sangat dingin dan bicara dengan sopan. "sebenarnya ini hanya masalah antar perempuan untuk apa kita ikut campur", Kenji diam, semua masih menatapnya. "tapi karena kamu telah campur tangan duluan, maka ini bukan lagi masalah antara perempuan lagi", dia melanjutkan sambil tersenyum, "nah ayo kita selesaikan ini berdua saja, tapi sebelum itu stephani sebaiknya kamu pergi. Aku tahu kamu pasti tidak akan suka dengan hal seperti ini". Aku dengan susah payah berdiri dan kepalaku masih sangat pusing. Ada dari mereka yang ingin menolongku, aku melambai padanya dengan maksud aku bisa berdiri. Aku tersenyum pada Kenji dan pergi dengan sempoyongan. Aku merasa ada yang mengikuti tapi aku membiarkan nya saja, aku tahu paling itu hanya salah satu dari yang lain. Terdengar suara saling baku hantam dan aku hanya terus pergi, aku akan pergi sejauh yang aku bisa bila dalam keadaan seperti ini, entah mengapa ini bisa membuatku lebih tenang. Aku hendak secepat mungkin pergi hingga disuatu jalan raya, saat ini aku sungguh tak berpikir untuk pergi kepenyebrangan jalan. Aku memilih terus berjalan, baru beberapa langkah aku berjalan "tit tit" bunyi klakson mobil dan aku merasa akan mati disini. Ada yang menarik tanganku dan memeluk dengan erat. Saat kulihat ternyata yang dari tadi mengikuti dan menolongku sekarang adalah Kiyoshi. Aku segera melepaskan diri dan ingin menyeberang lagi dan dia menarik ku. "apa kau mau mati?" teriaknya padaku. "bukan urusanmu", kataku sambil melepaskan tangannya dan ingin menyebrang lagi. Dia menarik ku kembali. "apa kesalahan ku? apa kau begitu membenciku hingga kau lebih memilih mati?", katanya dengan sangat marah. Mengingat masalah tadi aku masih sangat emosi, "iya, aku sangat membencimu. Aku lebih baik harus mati daripada harus disini bersamamu". Dengan ekspresinya yang sangat marah, "baik, kalau begitu silahkan mati". Mendengar perkataan nya membuat bertambah marah tanpa pikir panjang aku langsung berdiri ditengah jalan. Dan ada mobil dengan kecepatan cukup tinggi melintasi jalan itu dan akan segera menabrakku. Tiba-tiba kiyoshi berlari kearahku dan memelukku sangat erat. Dan aku hanya bisa berteriak, "APA YANG KAU LAKUKAN? KAU INGIN MATI? PERGI! PERGI!", mencoba melepaskan diri agar dapat mendorongnya dari situ, namun tenaganya sangat kuat hingga membuat ku benar-benar tak bisa bergerak. Mobil itu semakin mendekat dan aku segera memejamkan mata. "criitt!?", mobil itu mengerem dan berhenti beberapa senti dari kami. Sang pemilik mobil marah dan berteriak dalam mobil, "apa kalian gila?", dan banyak caci maki yang keluar dari mulutnya. Dan itu membuatku sadar bahwa kami masih selamat, kami tidak menghiraukan orang yang terus mengomel itu. Kiyoshi melepaskan pelukannya, dan aku menatap kearahnya. Aku marah "kau bodoh? Bagaimana jika kau mati?", aku memukul-mukulnya dan tanpa sadar aku airmataku ikut mengalir.
Jumat, 07 Januari 2011
part 4 fiction story / cerita fiksi
. . .
Hari yang cukup cerah untuk libur musim panas ini. Beberapa hari ini tidak ada kejadian yang cukup menarik. Hanya menjalani aktivitas seperti biasa namun lebih banyak aku melewatkan waktuku didalam kamar untuk bersantai. Ya karna aku ini bisa dikatakan orang yang pemalas. Seperti hari ini aku dan Lisa akan nongkrong ditaman. Sudah lama aku tidak melihat Kiyoshi mungkin dia sibuk untuk pertunangan nya. Rasanya cukup bosan juga karena tidak bertengkar dengan dia. "Stephani", sepertinya Lisa sudah memanggilku. "iya, tunggu", sahutku dan langsung berlari turun. "ayo kita pergi", kataku. "emm, steph, sepertinya aku harus kemall untuk membeli pakaian, ini titipan adeku. Jadi sepertinya kita tidak bisa ketaman hari ini", kata Lisa dengan nada menyesal. "tidak apa-apa Lis, kalau gitu aku ngajak Hiro saja", kataku santai agar tidak tampak kecewa. "tapi steph kalau kamu mau ikut aku kemall boleh kok?", ajaknya. "hmm, boleh, ayo pergi!? Tapi aku ganti baju dulu ya?", sahutku dan aku segera berlari keatas untuk ganti baju. Kami pun berangkat hanya menggunakan bus, bukan dengan mobil Limo lagi. Baju pesanan adenya telah dibeli Lisa, kami pun berbelanja beberapa pakaian baru. Sekarang kami akan pergi keStarbucks untuk minum kopi dan beristirahat sebentar karena kami cukup cape. "Steph lihat!?", kata Lisa dan dia menunjuk tangan nya menuju sepasang pria dan wanita yang tampak mesra berjalan dimall. Setelah kulihat lagi ternyata itu adalah Kiyoshi dan Sarah. "ku dengar Kiyoshi sibuk dengan pekerjaan nya yaitu crossdreser. Tapi kenapa dia malah sama tunangannya dimall ya?", lanjut Lisa. "pantesan belakangan ini dia ga kelihatan", kataku. Karena kami tak mau mengurusi urusan orang lain, ya walau aku sedikit penasaran. Kami melanjutkan meminum kopi kami dan ngobrol. Setelah cukup lama dan kurasa mereka tadi mungkin telah berjalan ketempat lain, kami pun kembali. "hey, Lisa", panggil seseorang dari belakang dan aku tahu itu Kiyoshi. Kami tidak segera menoleh kami saling melirik sebentar baru menoleh kebelakang. "hey, Kiyoshi", kata Lisa dengan enggan. Kiyoshi dan Sarah mendatangi kami. Sarah tersenyum pada kami dan kami hanya membalas tersenyum. "sedang apa kalian disini?", tanya Kiyoshi. "kami belanja baju titipan adeku", jawab Lisa biasa. "kalian mau pulang ayo bareng, kami juga mau pulang", ajak Kiyoshi. "tidak, terima kasih!?", kataku ketus pada Kiyoshi. "siapa yang mengajakmu?", balasnya. Aku segera menarik Lisa untuk pergi, tapi ternyata Kiyoshi juga menarik tangan Lisa. "apa yang kau lakukan? Kami mau pergi", kataku. Balas Kiyoshi padaku, "tidak bisa, Lisa belum menjawabku". "baiklah", kata Lisa mendadak, dan ini membuatku kaget karena dia tahu hubungan ku dengan Kiyoshi tidak baik. "maaf Steph, kurasa uang ku tidak cukup untuk kita pulang", kata Lisa pelan. "terserah padamu, aku pulang sendiri", sungguh Lisa sangat menyebalkan. Lisa menarik tangan ku, "Steph aku mohon". Dalam mobil aku hanya diam mereka tampak asyik ngobrol bertiga. "why you just be quiet?", tanya Sarah dengan sopan padaku. "you don't need care her", kata Kiyosii pada Sarah. "hey ini bukan urusanmu Sakura", kataku pada Kiyoshi. "jangan memanggilku Sakura", balas Kiyoshi. "kurasa itu panggil yang cocok untuk anak perempuan sepertimu", kataku padanya. "HEY!?", dia mulai bersuara dengan keras. Sarah dan Lisa tampak kaget, sedangkan aku hanya biasa saja karena aku sudah sering bertengkar dengan Kiyoshi semenjak hari itu. Bisa dikatakan setiap pertumuan kami selalu diwarnai perkalahian kami. Setelah perdebatan itu kami berdua hanya diam saja dimobil hingga sampai didepan rumah ku. Aku dan Lisa segera turun. Sarah sempat melambaikan tangan pada kami, belum sempat kami membalas jendela kaca mobil telah ditutup Kiyoshi. Sebelum Lisa pulang kerumahnya aku sempat marah padanya, yah dia hanya bisa mengatakan maaf dengan wajah bersalah. Ini malah membuatku seperti tersangka. Aku pun masuk kekamar. Mandi, berganti pakaian, dan tidur.
To be continue . . .
Hari yang cukup cerah untuk libur musim panas ini. Beberapa hari ini tidak ada kejadian yang cukup menarik. Hanya menjalani aktivitas seperti biasa namun lebih banyak aku melewatkan waktuku didalam kamar untuk bersantai. Ya karna aku ini bisa dikatakan orang yang pemalas. Seperti hari ini aku dan Lisa akan nongkrong ditaman. Sudah lama aku tidak melihat Kiyoshi mungkin dia sibuk untuk pertunangan nya. Rasanya cukup bosan juga karena tidak bertengkar dengan dia. "Stephani", sepertinya Lisa sudah memanggilku. "iya, tunggu", sahutku dan langsung berlari turun. "ayo kita pergi", kataku. "emm, steph, sepertinya aku harus kemall untuk membeli pakaian, ini titipan adeku. Jadi sepertinya kita tidak bisa ketaman hari ini", kata Lisa dengan nada menyesal. "tidak apa-apa Lis, kalau gitu aku ngajak Hiro saja", kataku santai agar tidak tampak kecewa. "tapi steph kalau kamu mau ikut aku kemall boleh kok?", ajaknya. "hmm, boleh, ayo pergi!? Tapi aku ganti baju dulu ya?", sahutku dan aku segera berlari keatas untuk ganti baju. Kami pun berangkat hanya menggunakan bus, bukan dengan mobil Limo lagi. Baju pesanan adenya telah dibeli Lisa, kami pun berbelanja beberapa pakaian baru. Sekarang kami akan pergi keStarbucks untuk minum kopi dan beristirahat sebentar karena kami cukup cape. "Steph lihat!?", kata Lisa dan dia menunjuk tangan nya menuju sepasang pria dan wanita yang tampak mesra berjalan dimall. Setelah kulihat lagi ternyata itu adalah Kiyoshi dan Sarah. "ku dengar Kiyoshi sibuk dengan pekerjaan nya yaitu crossdreser. Tapi kenapa dia malah sama tunangannya dimall ya?", lanjut Lisa. "pantesan belakangan ini dia ga kelihatan", kataku. Karena kami tak mau mengurusi urusan orang lain, ya walau aku sedikit penasaran. Kami melanjutkan meminum kopi kami dan ngobrol. Setelah cukup lama dan kurasa mereka tadi mungkin telah berjalan ketempat lain, kami pun kembali. "hey, Lisa", panggil seseorang dari belakang dan aku tahu itu Kiyoshi. Kami tidak segera menoleh kami saling melirik sebentar baru menoleh kebelakang. "hey, Kiyoshi", kata Lisa dengan enggan. Kiyoshi dan Sarah mendatangi kami. Sarah tersenyum pada kami dan kami hanya membalas tersenyum. "sedang apa kalian disini?", tanya Kiyoshi. "kami belanja baju titipan adeku", jawab Lisa biasa. "kalian mau pulang ayo bareng, kami juga mau pulang", ajak Kiyoshi. "tidak, terima kasih!?", kataku ketus pada Kiyoshi. "siapa yang mengajakmu?", balasnya. Aku segera menarik Lisa untuk pergi, tapi ternyata Kiyoshi juga menarik tangan Lisa. "apa yang kau lakukan? Kami mau pergi", kataku. Balas Kiyoshi padaku, "tidak bisa, Lisa belum menjawabku". "baiklah", kata Lisa mendadak, dan ini membuatku kaget karena dia tahu hubungan ku dengan Kiyoshi tidak baik. "maaf Steph, kurasa uang ku tidak cukup untuk kita pulang", kata Lisa pelan. "terserah padamu, aku pulang sendiri", sungguh Lisa sangat menyebalkan. Lisa menarik tangan ku, "Steph aku mohon". Dalam mobil aku hanya diam mereka tampak asyik ngobrol bertiga. "why you just be quiet?", tanya Sarah dengan sopan padaku. "you don't need care her", kata Kiyosii pada Sarah. "hey ini bukan urusanmu Sakura", kataku pada Kiyoshi. "jangan memanggilku Sakura", balas Kiyoshi. "kurasa itu panggil yang cocok untuk anak perempuan sepertimu", kataku padanya. "HEY!?", dia mulai bersuara dengan keras. Sarah dan Lisa tampak kaget, sedangkan aku hanya biasa saja karena aku sudah sering bertengkar dengan Kiyoshi semenjak hari itu. Bisa dikatakan setiap pertumuan kami selalu diwarnai perkalahian kami. Setelah perdebatan itu kami berdua hanya diam saja dimobil hingga sampai didepan rumah ku. Aku dan Lisa segera turun. Sarah sempat melambaikan tangan pada kami, belum sempat kami membalas jendela kaca mobil telah ditutup Kiyoshi. Sebelum Lisa pulang kerumahnya aku sempat marah padanya, yah dia hanya bisa mengatakan maaf dengan wajah bersalah. Ini malah membuatku seperti tersangka. Aku pun masuk kekamar. Mandi, berganti pakaian, dan tidur.
To be continue . . .
part 3 fiction story / cerita fiksi
. . .
Masih dalam keadaan kaget semua penjaga mengerumuni 2 mobil yang kami naiki, siap untuk menyeret kami keluar. Tapi entah mengapa penjaga yang berada dibelakang telah bubar dan kembali ke tempat mereka. Setelah dilihatnya kebelakang, Obama pun tersenyum dan membuka kaca jendela untuk menyuruh mereka kembali. "are you Kiyoshi's friends?", Obama berkata dengan tiba-tiba. Aku dan yang lain hanya diam karena masih cukup terkejut dan tambah bingung setelah mendengar pertanyaan Obama. "hello? Do you hear me?", kata Obama kembali dan ini cukup untuk membuat kami sadar. "yes, we're his friends, sir", sahut Lisa, dan kami berdua hanya bisa diam. "sorry if we're impolite, because we don't know it's yours, really sorry", tambah Lisa lagi. "it's okay, don't be worry", kata Obama dengan tersenyum, dan ini cukup membuat ku tenang. Kemudian Obama bertanya padaku, "by the why you call me om Obama?". Dari kebisuan ku aku mulai bicara, "sorry, I just so surprise can meet. So when I see you, i direct call om Obama because in Indonesia we usually call you likethat. Sorry if you don't like it". "oh it's okay, it's unique. You can call me like that. But why you come to Japan?", balas om Obama sekaligus bertanya padaku. "I college here", menjawab pertanyaan nya dengan sedikit takut, dan dibalas dengan om Obama dengan tersenyum. Lalu mobil pun jalan, tanpa pikir panjang aku langsung bertanya, "where are we going? You want to kill me because we get into your car without permission". Om Obama pun tertawa. "You're really funny, you like little girl. Hahahag", kata om Obama. "we will go to retaurant for dinner. Would you go with us?", lanjut om Obama, belum sempat kami menyahut om Obama melanjutkan perkataannya, "ops, I think you don't have choise". Dan kami hanya bisa diam dan tersenyum. ''by the way, who are you?", tanya om Obama. "My name is Stephani", "My name is Lisa Lay, Stephani's friend from Indonesia", "I'm Hiro, Takeshi Hiro", kami memperkenal nama kami masing-masing. Kemudian semua menjadi sepi karena kami tidak berani bicara. "may I know, why you get in my car with a rush?", suara om Obama memecah kesunyian. Lisa pun menceritakan nya pada om Obama, menurutku dia cukup terhibur dengan cerita kami. Dan dia pun meminta kami agar nanti segera meminta maaf, karena harus menerima konsekuensi setiap perbuatan. Dan kami pun mengiyakan. Di tengah perjalanan aku meminta untuk memberhentikan mobil. Dengan bingung om Obama hanya mengiyakan tanpa curiga. Tak lama aku pun kembali, "I buy takoyaki, I think you will like it. Ever you been eaten it?", kata ku langsung pa om Obama. "hmm, Not yet. I think it's delecious", om Obama langsung mengambil satu dan memakan nya, dan aku membagi pada yang lain.
Akhir nya kami tiba direstoran, saat turun dari mobil aku segera berkumpul dengan Kyo, Koji, dan Sakura. Mereka tak terlalu kaget saat om Obama keluar dari mobil. Kami pun segera masuk kedalam restoran dan kami berenam mengikuti dari belangkang. Tak lama kami berjalan aku baru menyadari bahwa ada seorang gadis yang menggandeng tangan Kiyoshi. Dia tampak senang. Setiba didalam kami memesan makanan, namun kami duduk dimeja yang terpisah. Aku bersama teman-temanku, tapi meja kami tidak jauh dari meja om Obama. Sehingga aku bisa mendengar pembicaraan om Obama yang menyuruh Sarah dan Kiyoshi untuk mulai memesan makanan. Ternyata nama gadis yang menggandeng Kiyoshi itu Sarah, tapi apa hubungan mereka. Aku masih sangat penasaran, aku hanya diam agar dapat mendengar pembicaraan mereka. Setelah beberapa lama aku menunggu akhir om Obama mulai berbicara, "By the way Kiyoshi,
whether you've set a date for
your engagement?". Itu membuat kami terkejut sampai-sampai Lisa menjatuhkan garpunya. Menyadari hal itu om Obama langsung bertanya pada kami, "don't you know it, do you?". Kami hanya menggelengkan kepala. "sorry sir, I am not tell them yet. I want to give them a surprise", kata Kiyoshi. "oo, sorry Kiyoshi, I think they know it", kata om Obama biasa saja. "it's okay sir, I think it's more good because they know from president America", kata Kiyoshi dengan sopan. Lalu mereka tertawa. Kami pun pulang setelah selesai makan, kami semua ikut dalam mobil Limo milik Kiyoshi. Dan Sarah ikut om Obama. Dalam perjalanan teman-teman yang terus bertanya pada Kiyoshi, dan aku hanya diam karena aku tidak pernah akrab dengan Kiyoshi. Ternyata Sarah keponakan dari om Obama, dan kedua orangtua nya telah meninggal dan yang mengurusnya sekarang adalah om Obama. Karena om Obama ada tugas di Jepang jadi sekaligus menemui Kiyoshi. Hari yang tidak pernah kusangka dalam hidup ku, bertemu president america, Kiyoshi akan bertunangan, dan naik mobil limo. Aku merasa lelah dan tertidur dalam surgaku yaitu kamarku.
To be continue . . .
Masih dalam keadaan kaget semua penjaga mengerumuni 2 mobil yang kami naiki, siap untuk menyeret kami keluar. Tapi entah mengapa penjaga yang berada dibelakang telah bubar dan kembali ke tempat mereka. Setelah dilihatnya kebelakang, Obama pun tersenyum dan membuka kaca jendela untuk menyuruh mereka kembali. "are you Kiyoshi's friends?", Obama berkata dengan tiba-tiba. Aku dan yang lain hanya diam karena masih cukup terkejut dan tambah bingung setelah mendengar pertanyaan Obama. "hello? Do you hear me?", kata Obama kembali dan ini cukup untuk membuat kami sadar. "yes, we're his friends, sir", sahut Lisa, dan kami berdua hanya bisa diam. "sorry if we're impolite, because we don't know it's yours, really sorry", tambah Lisa lagi. "it's okay, don't be worry", kata Obama dengan tersenyum, dan ini cukup membuat ku tenang. Kemudian Obama bertanya padaku, "by the why you call me om Obama?". Dari kebisuan ku aku mulai bicara, "sorry, I just so surprise can meet. So when I see you, i direct call om Obama because in Indonesia we usually call you likethat. Sorry if you don't like it". "oh it's okay, it's unique. You can call me like that. But why you come to Japan?", balas om Obama sekaligus bertanya padaku. "I college here", menjawab pertanyaan nya dengan sedikit takut, dan dibalas dengan om Obama dengan tersenyum. Lalu mobil pun jalan, tanpa pikir panjang aku langsung bertanya, "where are we going? You want to kill me because we get into your car without permission". Om Obama pun tertawa. "You're really funny, you like little girl. Hahahag", kata om Obama. "we will go to retaurant for dinner. Would you go with us?", lanjut om Obama, belum sempat kami menyahut om Obama melanjutkan perkataannya, "ops, I think you don't have choise". Dan kami hanya bisa diam dan tersenyum. ''by the way, who are you?", tanya om Obama. "My name is Stephani", "My name is Lisa Lay, Stephani's friend from Indonesia", "I'm Hiro, Takeshi Hiro", kami memperkenal nama kami masing-masing. Kemudian semua menjadi sepi karena kami tidak berani bicara. "may I know, why you get in my car with a rush?", suara om Obama memecah kesunyian. Lisa pun menceritakan nya pada om Obama, menurutku dia cukup terhibur dengan cerita kami. Dan dia pun meminta kami agar nanti segera meminta maaf, karena harus menerima konsekuensi setiap perbuatan. Dan kami pun mengiyakan. Di tengah perjalanan aku meminta untuk memberhentikan mobil. Dengan bingung om Obama hanya mengiyakan tanpa curiga. Tak lama aku pun kembali, "I buy takoyaki, I think you will like it. Ever you been eaten it?", kata ku langsung pa om Obama. "hmm, Not yet. I think it's delecious", om Obama langsung mengambil satu dan memakan nya, dan aku membagi pada yang lain.
Akhir nya kami tiba direstoran, saat turun dari mobil aku segera berkumpul dengan Kyo, Koji, dan Sakura. Mereka tak terlalu kaget saat om Obama keluar dari mobil. Kami pun segera masuk kedalam restoran dan kami berenam mengikuti dari belangkang. Tak lama kami berjalan aku baru menyadari bahwa ada seorang gadis yang menggandeng tangan Kiyoshi. Dia tampak senang. Setiba didalam kami memesan makanan, namun kami duduk dimeja yang terpisah. Aku bersama teman-temanku, tapi meja kami tidak jauh dari meja om Obama. Sehingga aku bisa mendengar pembicaraan om Obama yang menyuruh Sarah dan Kiyoshi untuk mulai memesan makanan. Ternyata nama gadis yang menggandeng Kiyoshi itu Sarah, tapi apa hubungan mereka. Aku masih sangat penasaran, aku hanya diam agar dapat mendengar pembicaraan mereka. Setelah beberapa lama aku menunggu akhir om Obama mulai berbicara, "By the way Kiyoshi,
whether you've set a date for
your engagement?". Itu membuat kami terkejut sampai-sampai Lisa menjatuhkan garpunya. Menyadari hal itu om Obama langsung bertanya pada kami, "don't you know it, do you?". Kami hanya menggelengkan kepala. "sorry sir, I am not tell them yet. I want to give them a surprise", kata Kiyoshi. "oo, sorry Kiyoshi, I think they know it", kata om Obama biasa saja. "it's okay sir, I think it's more good because they know from president America", kata Kiyoshi dengan sopan. Lalu mereka tertawa. Kami pun pulang setelah selesai makan, kami semua ikut dalam mobil Limo milik Kiyoshi. Dan Sarah ikut om Obama. Dalam perjalanan teman-teman yang terus bertanya pada Kiyoshi, dan aku hanya diam karena aku tidak pernah akrab dengan Kiyoshi. Ternyata Sarah keponakan dari om Obama, dan kedua orangtua nya telah meninggal dan yang mengurusnya sekarang adalah om Obama. Karena om Obama ada tugas di Jepang jadi sekaligus menemui Kiyoshi. Hari yang tidak pernah kusangka dalam hidup ku, bertemu president america, Kiyoshi akan bertunangan, dan naik mobil limo. Aku merasa lelah dan tertidur dalam surgaku yaitu kamarku.
To be continue . . .
Kamis, 06 Januari 2011
part 2 : fiction story / cerita fiksi
. . .
Hari menjadi semakin panas, matahari telah tepat diatas. Aku tertidur dengan nyenyak dengan angin berhembus kencang dari sebuah mesin yang bernama AC. Sungguh nyaman dalam cuaca seperti ini, musim panas. "Steph! Stephani!", ada suara yang sangat familiar memanggil dan ini sangatlah mengganggu. Dengan enggan dan malas aku berjalan menuju jendela kamarku dan mendongak keluar. Ternyata benar dugaanku Lisa dan yang lain. 'Pasti mereka ingin mengajakku bermain basket' kataku dalam hatiku. "ayo buruan, cepat turun!?", teriak Hiro yang tak sabaran sambil memutar bola diujung jari telunjuknya. "iya tunggu bentar, aku cuci muka dulu ya", kataku dengan enggan. Aku segera masuk dan mencuci mukaku, terasa lebih segar dan nyaman. Maksudny ngantuknya sedikit berkurang. Lalu aku segera turun dan menemui mereka. Kemudian kami segera ke taman.
"kalian main duluan aja", kataku sesampai dilapangan. "tapi orang nya kurang, ayolah steph", ajak Lisa. Sebelum sempat menyahut ada yang terlebih dahulu bicara, "bagaimana kalau aku ikut main?". Sumber suara itu membuat ku langsung emosi. "TIDAK!? Aku akan main, aku tidak mau perempuan itu main disini", sahut ku dengan nada sedikit emosi. "kenapa kau suka sekali mencari masalah dengan ku?", kata Kiyoshi yang ikut emosi. "bukan kamu yang mulai duluan", balasku lagi. "Sudah! Hentikan, kalian seperti anak saja", kata Lisa yang sudah lelah mendengar perdebatan kami. Akhirnya Kiyoshi mengalah, namun dia berkata dengan ketus, "baiklah aku pergi". Kami pun bermain, huh sungguh sangat membuat kami sangat lelah. Saat pulang kami bermain-main dengan bola basket tersebut. Sampai akhirnya bola tersebut terpental kekepala seorang ibu. Ternyata ibu itu adalah janda yang tinggal diseberang rumah Lisa, ibu itu sangat lah sehingga tanpa pikir panjang kami segera lari. Ibu itu mengejar kami, kami berlari terus hingga dekat rumahku. Tepatnya didepan rumah Kiyoshi, aku bertetangga dengan Kiyoshi. Tanpa pikir panjang saat melihat banyak mobil mewah yang berderet, 2 mobil Limo, dan sisanya tampak seperti mobil sedan namun tampak sangat mewah. Tak heran buatku karena setau ku Kiyoshi anak orang kaya. Jadi mungkin saja ini mobil teman ayahnya. Aku segera memberitahu yang lain untuk masuk kedalam mobil. "hei, cepat masuk kemobil kita sembunyi didalam mobil saja". Mereka pun mengikuti perkataan, karena tak tahu tempat lain lagi yang bisa digunakan untuk sembunyi. Sakura, Kyo, dan Koji masuk dalam mobil Limo dibelakang mobil yang aku, Lisa, dan Hiro masuki. Aku merasa cukup lega karena dapat bersembunyi dari janda galak itu. Tapi baru saja aku merasa lega, dengan takut-takut seperti orang melihat setan mereka berdua menunjuk kesebelah. Dengan heran dan tak mengerti aku segera menoleh. Dan aku sangat terkejut hingga membuat jantungku hampir copot. "Om Obama?", hanya itu yang bisa keluar dari mulut saat itu.
To be continue. . .
Hari menjadi semakin panas, matahari telah tepat diatas. Aku tertidur dengan nyenyak dengan angin berhembus kencang dari sebuah mesin yang bernama AC. Sungguh nyaman dalam cuaca seperti ini, musim panas. "Steph! Stephani!", ada suara yang sangat familiar memanggil dan ini sangatlah mengganggu. Dengan enggan dan malas aku berjalan menuju jendela kamarku dan mendongak keluar. Ternyata benar dugaanku Lisa dan yang lain. 'Pasti mereka ingin mengajakku bermain basket' kataku dalam hatiku. "ayo buruan, cepat turun!?", teriak Hiro yang tak sabaran sambil memutar bola diujung jari telunjuknya. "iya tunggu bentar, aku cuci muka dulu ya", kataku dengan enggan. Aku segera masuk dan mencuci mukaku, terasa lebih segar dan nyaman. Maksudny ngantuknya sedikit berkurang. Lalu aku segera turun dan menemui mereka. Kemudian kami segera ke taman.
"kalian main duluan aja", kataku sesampai dilapangan. "tapi orang nya kurang, ayolah steph", ajak Lisa. Sebelum sempat menyahut ada yang terlebih dahulu bicara, "bagaimana kalau aku ikut main?". Sumber suara itu membuat ku langsung emosi. "TIDAK!? Aku akan main, aku tidak mau perempuan itu main disini", sahut ku dengan nada sedikit emosi. "kenapa kau suka sekali mencari masalah dengan ku?", kata Kiyoshi yang ikut emosi. "bukan kamu yang mulai duluan", balasku lagi. "Sudah! Hentikan, kalian seperti anak saja", kata Lisa yang sudah lelah mendengar perdebatan kami. Akhirnya Kiyoshi mengalah, namun dia berkata dengan ketus, "baiklah aku pergi". Kami pun bermain, huh sungguh sangat membuat kami sangat lelah. Saat pulang kami bermain-main dengan bola basket tersebut. Sampai akhirnya bola tersebut terpental kekepala seorang ibu. Ternyata ibu itu adalah janda yang tinggal diseberang rumah Lisa, ibu itu sangat lah sehingga tanpa pikir panjang kami segera lari. Ibu itu mengejar kami, kami berlari terus hingga dekat rumahku. Tepatnya didepan rumah Kiyoshi, aku bertetangga dengan Kiyoshi. Tanpa pikir panjang saat melihat banyak mobil mewah yang berderet, 2 mobil Limo, dan sisanya tampak seperti mobil sedan namun tampak sangat mewah. Tak heran buatku karena setau ku Kiyoshi anak orang kaya. Jadi mungkin saja ini mobil teman ayahnya. Aku segera memberitahu yang lain untuk masuk kedalam mobil. "hei, cepat masuk kemobil kita sembunyi didalam mobil saja". Mereka pun mengikuti perkataan, karena tak tahu tempat lain lagi yang bisa digunakan untuk sembunyi. Sakura, Kyo, dan Koji masuk dalam mobil Limo dibelakang mobil yang aku, Lisa, dan Hiro masuki. Aku merasa cukup lega karena dapat bersembunyi dari janda galak itu. Tapi baru saja aku merasa lega, dengan takut-takut seperti orang melihat setan mereka berdua menunjuk kesebelah. Dengan heran dan tak mengerti aku segera menoleh. Dan aku sangat terkejut hingga membuat jantungku hampir copot. "Om Obama?", hanya itu yang bisa keluar dari mulut saat itu.
To be continue. . .
Selasa, 04 Januari 2011
Fiction Story / Cerita Fiksi
"liat deh Lis, Kiyoshi itu kayak cewek ya?", kataku. "hush! Diam steph, nanti dia dengar", sahut Lisa. "aduh Lis, kita jauh dari dia, ga mungkin dia bisa dengar". Lisa membalasku lagi "terserah padamu saja, aku tidak perduli". "kamu ini penakut", kataku lagi. Aku terus membicarakan Kiyoshi Sakurazuka yang benar-benar terlihat seperti perempuan, bahkan wajah seorang perempuan tulen pun tidak akan secantik wajahnya, tapi jangan salah dia tetap seorang pria tulen dengan wajah yang luar biasa cantik. "tuh dia ngelihatin kita, kayak kamu bicara terlalu keras. Ayo kita pergi!?", kata Lisa tiba-tiba yang dari tadi hanya diam saja. Lisa segera menarik ku pergi. Aku yang bingung cuma ikut saja. Tak lama kami berjalan ingin pergi dari taman, tiba-tiba sebuah tangan menjitak kepala ku dengan kuat dan membuat aku terkejut. Aku merasa marah dan segera menoleh ingin melihat siapa orang yang berani menjitak ku. Saat berbalik ternyata orang itu adalah Kiyoshi. Aku terkejut, marah sekaligus bingung, apapkah salah ku sehingga dia melakukan hal itu. "eh, kenpapa kamu menjitak ku?" tanyaku. "aku mendengar pembicaraan kalian dari tadi, aku tidak suka dibicarakan", katanya dengan marah. Dan dia melanjutkan perkataan nya dengan nada lebih, "DAN AKU PALING TIDAK SUKA DIBILANG SEPERTI PEREMPUAN". Aku pun bertambah marah, "eh, aku tidak perduli kamu suka atau gak, aku hanya mengatakan kenyataan, kamu memang seperti perempuan". Emosi Kiyoshi semakin memuncak dia menarik kerah baju ku dan berkata, "sekali lagi kamu berkata aku seperti perempuan, aku tidak akan segan-segan memukul mu". Aku pun berbalik menantang, "oh ya? Kamu kira aku takut, kalau kamu sampai menamparku, kurasa kamu bukan lagi terlihat seperti perempuan, tapi kamu memang perempuan". Plaak, Kiyoshi menamparku hingga aku terhuyung kebelakang. Kemudian aku kembali berdiri tegak dan berkata dengan emosi yang sangat memuncak, "YOU ARE A GIRL". Dan dia bersiap hendak menampar ku lagi. "KIYOSHI, KIYOSHI", sebuah suara memanggil dari belakang nya, dan ternyata dia Taro Yamashi, tetangga sebelah Kiyoshi. "Kiyoshi, ada yang mencari mu, katanya penting, ayo cepat!", kata nya dengan tersengal-sengal. Kiyoshi pun melepas kan kerah baju ku. Mimik wajah berubah menjadi lebih tenang dan santai, setelah itu dia meninggalkan ku tanpa berkata apa-apa. Aku masih berdiri diam, hanya menatap nya pergi. Sedangkan Lisa langsung berlari mendekatiku, sepertinya dia begitu mengkhawatirkan aku. Setelah itu kami pun kembali kekostan kami.
To be continue. . .
To be continue. . .
Langganan:
Postingan (Atom)