"steph ada surat buat kamu", teriak ibu Naomi yang merupakan ibu kost tempat aku tinggali. Aku berlari turun mengambil surat dan segera naik lagi. Aku tak pernah menerima surat sebelum nya, aku segera membuka surat itu. Aku terkejut ternyata itu adalah undangan pertunangan Kiyoshi. Aku menaruh surat itu diatas ranjang, dan berjalan ke jendela. Aku melihat Kiyoshi diluar menuju taman bersama teman-teman. Pipiku basah tanpa aku sadari, aku mengusapnya. "aku hanya kelilipan", kataku pada diriku sendiri. Kemudian aku menjatuhkan diriku diatas tempat tidur dan terlelap. Esok paginya aku terburu-buru kekampus karena lupa menyetel alarm. Saat dikampus teman-teman membicara kan masalah pertunangan Kiyoshi. Aku hanya diam dan mendengar, aku tak menyangka akan secepat itu beritanya tersebar. Saat selesai mengikuti pelajaran hari itu aku pun pulang dan berganti pakaian. Saat ingin merebah kan diri ke tempat tidur. Bruakk. Lisa masuk kekamarku seperti dikejar hantu dan membuat aku bingung. "kamu belum siap-siap? Hari ini kan pertunangan Kiyoshi?", kata Lisa tampak panik. Aku baru sadar, "Lisa sepertinya aku gak pergi. Aku belum mempersiapkan apapun. Kadonya pun tidak ada", kata ku mencari alasan karena terasa berat untuk kesana. "aku tahu pasti kamu akan lupa, dia langsung mengeluarkan sebuah gaun yang indah dan menyuruhku memakainya awalnya aku menolak tapi karena Lisa terus memaksa, aku hanya bisa menurutinya. Lisa bahkan telah menyiapkan kadonya. Kami berangkat, suasana disana sungguh berbeda semua tampak megah. Banyak pejabat dan orang-orang yang berkedudukan tinggi disana. Kami berjalan menyusuri villa megah yang terdapat diatas bukit dan dikiri nya adalah hutan sedang sebelah kanan terdapat pemandangan yang luar biasa indah. Saat berjalan dalam villa yang penuh sesak aku melihat Kiyoshi dan Sarah yang berada diluar jendela, mereka tampak bahagia. Tiba-tiba Kiyoshi menyadari keberadaanku dan melihat kearahku, aku segera membuang muka dan pergi dari sana. Aku berjalan keluar kearah pinggiran hutan, aku melihat seseorang disana. "om Obama", tegur ku pada orang itu. "hi stephani. What are doing here?", tanya Obama. Aku berdiri disebelahnya, "nothing just looking for fresh air. And you?", aku balik bertanya. "same", jawabnya singkat. Kami terdiam sejenak lalu aku kembali bertanya, "why you just see to the forest?". "I ever lost my way there", katanya. Aku hanya diam dan menatap kearahnya, dia pun melanjutkan ceritanya, "I looked for my way until I give up. I thought I will die there, and no one could find me. But I like saw light not far from me, I follow that light. I think that a way for me to out from there. Then you know what I see?", dia melihat kearahku. Aku terus diam dan menatapnya, dia tersenyum dan kembali melihat kearah hutan, dia melanjutkan ceritanya, "I just saw a lake, really beautifull lake. I stoped to walk, I be quiet for a moment, then I feel calm. I told to my self if I die there, I will die without remorse. After that I fall down, I think I've died. When I opened my eyes I see sun, and they found me", Obama tersenyum cukup lama. "that's my beauty memory ever I had", katanya. "never try to go there. Okay?", Obama menepuk pundak ku dan pergi. Aku terus menatap kearah hutan dan yang terpikir oleh ku adalah 'apakah aku akan menemukan danau yang bisa membuat seseorang tak akan menyesal bila harus setelah melihatnya'. Tanpa aku sadari aku berjalan kedalam hutan itu dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Aku berjalan semakin dalam, dalam, dan dalam. . .
To be continue. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar