. . .
Besok aku harus kuliah seperti biasa karena liburan musim panas hanya sampai hari ini. "huh!? Aku harus membuat hari terakhir menjadi hari yang paling memuaskan dalam hidupku. Maka dari itu aku akan tidur sampai puas", kataku pada diriku sendiri. TOK TOK TOK, ada yang mengetuk pintu dengan sangat kencang. "iya, tunggu", teriakku. Saat aku membuka pintu aku sungguh tak menyangka bahwa itu adalah Kiyoshi. Dia langsung menarikku, "hei sakura kita mau kemana?", kataku pada Kiyoshi. Dia hanya diam hingga sampai didepan rumah nya dan ada seorang gadis yang penuh luka. "ini ulahmu kan?", kata Kiyoshi kasar. "iya. Lalu apa urusan nya denganmu?", kataku. "dia adik sepupuku. Jadi ini tentu berurusan denganku. Dia baru pertama kesini", Kiyoshi menjelaskan. Aku mulai marah mengingat kejadian kemaren, "o ternyata dia adik mu, katakan padanya disini bukan tempatnya. Jadi bersikaplah lebih sopan". Adik sepupunya hanya diam sambil menundukan kepala. Kiyoshi tampak bingung, "apa maksudmu?". Aku mulai menceritakan kejadian kemaren, "saat aku, Lisa, dan yang lain sedang duduk ditaman, dia tiba-tiba datang dan mengurusi. Apa dia pikir taman itu miliknya. Aku marah, lalu dia malah berteriak semakin keras pada kami. Emosiku meledak dan terjadilah hal seperti ini". "tapi tak seharusnya kamu membuatnya seperti ini apalagi kalian keroyokan", Kiyoshi ngotot. Lalu tiba-tiba datang seorang pria yang tampak awut-awutan datang dan "Buk!?" dia memukul dengan kuat hingga terlempar kebelakang. "jadi kamu yang berani memukul adik ku ini. Aku rasa kamu akan segera hancur karena berani menyentuh adik ku", katanya tampak beringas. Lalu gadis itu tersenyum kecil. Aku berdarah, dan Kiyoshi mencoba menahan pria itu yang akan memukul ku lagi. "sudah kak, aku yang akan mengurusnya", kata Kiyoshi. Tak lama datang teman-teman ku dan juga Kiyoshi datang, dan asli mereka adalah preman daerah sini. Dan jumlah mereka sangat banyak hingga ratusan, itu belum dihitung dengan jumlah yang diluar daerah itu. Aku pun tak pernah menyangka bisa mempunyai teman seperti mereka, tapi aku senang karena mereka sangat baik padaku. "hei kau, apa yang kau lakukan pada stephani. Berani sekali kau memukulnya", kata salah seorang dari mereka. Lalu muncul seseorang dari kerumunan dan itu Kenji. Dia pemimpin dari mereka semua dia tampak tampan dengan tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih dan halus, serta senyumnya yang manis. "mau apa kalian? Jelas ini salah perempuan itu yang memukul adik ku", dia mencoba membela diri dan memberanikan diri. "hei apakah kau tak tahu kalau adikmu yang memulai?", sahut salah seorang dari mereka. Kenji mulai angkat bicara, dia terlihat sangat dingin dan bicara dengan sopan. "sebenarnya ini hanya masalah antar perempuan untuk apa kita ikut campur", Kenji diam, semua masih menatapnya. "tapi karena kamu telah campur tangan duluan, maka ini bukan lagi masalah antara perempuan lagi", dia melanjutkan sambil tersenyum, "nah ayo kita selesaikan ini berdua saja, tapi sebelum itu stephani sebaiknya kamu pergi. Aku tahu kamu pasti tidak akan suka dengan hal seperti ini". Aku dengan susah payah berdiri dan kepalaku masih sangat pusing. Ada dari mereka yang ingin menolongku, aku melambai padanya dengan maksud aku bisa berdiri. Aku tersenyum pada Kenji dan pergi dengan sempoyongan. Aku merasa ada yang mengikuti tapi aku membiarkan nya saja, aku tahu paling itu hanya salah satu dari yang lain. Terdengar suara saling baku hantam dan aku hanya terus pergi, aku akan pergi sejauh yang aku bisa bila dalam keadaan seperti ini, entah mengapa ini bisa membuatku lebih tenang. Aku hendak secepat mungkin pergi hingga disuatu jalan raya, saat ini aku sungguh tak berpikir untuk pergi kepenyebrangan jalan. Aku memilih terus berjalan, baru beberapa langkah aku berjalan "tit tit" bunyi klakson mobil dan aku merasa akan mati disini. Ada yang menarik tanganku dan memeluk dengan erat. Saat kulihat ternyata yang dari tadi mengikuti dan menolongku sekarang adalah Kiyoshi. Aku segera melepaskan diri dan ingin menyeberang lagi dan dia menarik ku. "apa kau mau mati?" teriaknya padaku. "bukan urusanmu", kataku sambil melepaskan tangannya dan ingin menyebrang lagi. Dia menarik ku kembali. "apa kesalahan ku? apa kau begitu membenciku hingga kau lebih memilih mati?", katanya dengan sangat marah. Mengingat masalah tadi aku masih sangat emosi, "iya, aku sangat membencimu. Aku lebih baik harus mati daripada harus disini bersamamu". Dengan ekspresinya yang sangat marah, "baik, kalau begitu silahkan mati". Mendengar perkataan nya membuat bertambah marah tanpa pikir panjang aku langsung berdiri ditengah jalan. Dan ada mobil dengan kecepatan cukup tinggi melintasi jalan itu dan akan segera menabrakku. Tiba-tiba kiyoshi berlari kearahku dan memelukku sangat erat. Dan aku hanya bisa berteriak, "APA YANG KAU LAKUKAN? KAU INGIN MATI? PERGI! PERGI!", mencoba melepaskan diri agar dapat mendorongnya dari situ, namun tenaganya sangat kuat hingga membuat ku benar-benar tak bisa bergerak. Mobil itu semakin mendekat dan aku segera memejamkan mata. "criitt!?", mobil itu mengerem dan berhenti beberapa senti dari kami. Sang pemilik mobil marah dan berteriak dalam mobil, "apa kalian gila?", dan banyak caci maki yang keluar dari mulutnya. Dan itu membuatku sadar bahwa kami masih selamat, kami tidak menghiraukan orang yang terus mengomel itu. Kiyoshi melepaskan pelukannya, dan aku menatap kearahnya. Aku marah "kau bodoh? Bagaimana jika kau mati?", aku memukul-mukulnya dan tanpa sadar aku airmataku ikut mengalir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar