. . .
Aku menyusuri hutan itu, semakin dalam semakin gelap pula. Tanpa sadar aku telah berjalan jauh hingga tersesat, aku melihat ke segela arah tapi semua tampak sama. Aku semakin ketakutan. Ada yang menepuk pundakku, aku takut sekali. Tanpa menoleh aku langsung berlari, "Argh TOLONG! TOLONG AKU". Dia mengejarku, aku berusaha berlari secepat yang aku bisa. Dia berhasil menangkap tanganku, aku terus meronta. "ini aku, steph, aku Kiyoshi!?", kata Kiyoshi. Lalu aku pun berhenti meronta. Aku tak berani menatap wajahnya, karena ku rasa tadi aku tampak memalukan. "kenapa kau ada disini? Kau mengikutiku?", tanyaku. "tidak, aku tadi jalan-jalan disekitar hutan. Lalu aku tersesat, kemudian bertemu dengan", jawabnya. "ooo", kataku tampak tak yakin. "lalu apa yang harus kita lakukan?", tanyaku lagi. "entah, karena kita sama-sama terserat lebih baik sekarang mencari tempat untuk beristirahat lalu besok baru mencari jalan pulang", katanya. "baiklah", sahutku. Kami pun jalan mencari tempat, namun belum sama sekali menemukan tempat untuk istirahat. "sakura, jangan jalan cepat-cepat", kataku. Lalu tiba-tiba Kiyoshi mengulurkan tangan nya. "apa?", tanyaku. "agar kamu tidak tertinggal, cepat!", kata Kiyoshi. Aku menyambut tangannya, kami bergandengan. 'dag dig dug' jantungku mulai berdetak dengan kencang. 'ada apa denganku' kataku dalam hati sambil memegang dadaku. Tangan yang sekarang menggemgam tanganku sungguh besar dan kuat, aku merasa sangat tenang. Tak lama kemudian kami menemukan tempat tampak cukup nyaman. "ayo cari kayu bakar disekitar sini", katanya. Aku dan Kiyoshi berpencar, kami menemukan cukup kayu bakar, Kiyoshi pun menyalakan nya. Kami duduk didekat api yang cukup hangat. Kami berdua diam, tak ada yang bicara, kadang aku melirik padanya. "kurasa sudah cukup malam, lebih baik kita segera tidur, aku akan mematikan apinya. Kami berada didua sisi berbeda, aku menyandarkan diri dipohon begitu pula dengan Kiyoshi. Aku tak bisa tidur karena gelap dan takut, tapi dia terlihat sudah memejamkan mata. Aku terus was-was, "apa yang kau lakukan? Cepat lah tidur", kata Kiyoshi tiba-tiba dan membuat ku terkejut. "a. . aku tak bisa tidur. Aku takut", kataku sambil menundukan kepala. Kiyoshi langsung berdiri dan duduk disebelahku. "apa yang kau lakukan?", tanya ku dengan penuh curiga dan segera menaruh kedua tangan ku diatas dada. "jangan bodoh, aku tak bernafsu sedikit pun padamu, biarpun sekarang kamu sedang tak berpakaian", katanya tenang sambil memejamkan mata. Aku merasa kesal dan memukulnya. Tapi Kiyoshi menangkap tanganku, aku segera melepaskannya. "hei jangan terlalu pede, kamu kira aku mau dengan mu", kataku marah. Lalu kami diam, aku masih belum bisa tidur. "sakura, sakura apakah kamu sudah tidur?", tanyaku pelan. "ada apa?", jawabnya sinis. "boleh tanya?", tanyaku lagi. "apa?", balasnya singkat. "apakah kamu mencintai Sarah ?", aku bertanya dengan takut-takut. Dia melihat kearahku, lalu memejamkan mata lagi, "bukan urusanku". Seakan aku sudah tahu jawabannya aku beralih kepertanyaan selanjutnya, "mengapa kamu mau menikah dengannya?". Kali ini dia terus melihat kearahku dan berkata, "bukan urusanmu". Dia masih menatapku, tanpa aku mengerti aku merasa sidikit senang. Aku tersenyum dan berkata padanya, "terima kasih". Kiyoshi tak melihat kearahku lagi, tapi dia tidak mencoba untuk tidur atau memejamkan mata. Dia tiba-tiba berkata, "tadi aku mengikutimu, saat kamu keluar aku mengikutimu. Kamu berdiri sebelah Obama, tapi aku tak tahu apa yang kalian bicara. Lalu tiba-tiba saat Obama berjalan masuk, kamu malah pergi masuk kehutan. Dan aku mengikuti mu". Aku tidak terlalu terkejut kemudian aku bertanya padanya, "mengapa kamu mengikuti ku?". Sebelum sempat dia menjawab aku memotongnya, "jangan menjawab bukan urusanmu". Dia sempat terdiam lalu berkata, "aku hanya penasaran". "sungguh kamu hanya penasaran?", aku mendesaknya. "iya", katanya singkat, "aku ingin pergi mencari udara segar sebentar", katanya lagi. Dia berdiri dan berjalan pergi. Aku sempat terdiam, lalu bangun dan mengejarnya. Aku menarik tangan nya, "tunggu! Benarkah hanya penasaran?", aku mencoba memastikan nya sekali lagi. "iya", katanya pelan. Aku melepaskan tangan nya, "maaf", aku berbalik pergi dan entah mengapa semangat ku yang tadinya menggebu-gebu seakan hilang begitu saja. Aku terkejut, ada yang memeluk ku dari belakang dan aku tahu bahwa itu Kiyoshi. "aku mengkhawatirkan, sangat mengkhawatirkan mu makanya aku menyusul mu", suaranya terdengar sangat jelas karena dia berbicara tepat ditelingaku, suaranya terdengar begitu lembut. Aku berbalik dan saling menatap, dengan perlahan wajah semakin dekat padaku. Aku memejamkan mata bibir nya menyentuh bibirku dengan lembut. Aku sangat bahagia, dalam benak ku 'tak apa aku tak menemukan danau itu, karena aku telah menemukan hal yang lebih indah dari apapun. Esok hari nya aku terbangun dan orang yang pertama aku lihat adalah Kiyoshi. Percaya atau tidak tapi itu memang dia, tangan merangkul bahuku membuatku merasa sangat aman. Sungguh masih sulit untuk percaya kejadian semalam. Aku masih menatap nya 'ternyata dia lebih tampan bila terlihat dari dekat' dalam benakku. Aku tak tahu kalau hidungnya begitu mancung, lalu aku menyentuh hidungnya. Tiba-tiba dia menangkap tanganku, "apakah aku begitu tampan hingga kamu terus menatapku", katanya. Aku terkejut lalu menundukan kepalaku karena malu. "Stephani, Kiyoshi?", terdengar suara teriakan orang yang mencari kami. Kami segera berdiri dan Kiyoshi balas berteriak "kami disini! Tolong!?".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar