Senin, 21 Februari 2011

part 9 last fiction story / akhir cerita fiksi

. . .
"Lisa aku sudah rela melepasnya. Ada banyak hal yang tak kau mengerti, biarkan dia berbahagia. Aku yang mengakhiri ini, maka aku pula yang harus menerima konsekuensinya", kataku pelan Lisa. Aku masih memegang tangan nya. Lalu Lisa melepas tangan ku dan memelukku. Aku menangis dalam pelukan Lisa.
Hari ini adalah hari pertunangan Kiyoshi. Aku duduk dibarisan belakang bersama Lisa. "sudah lah Lisa kamu tak perlu cemberut, ini masalah ku. Mengerti?", kataku. Lisa melihat kearahku dan mengangguk. Kiyoshi dan tunangan nya sudah datang mereka memasuki ruangan, terlihat Obama tampak bahagia. Mereka berjalan kearah Obama. Obama memeluk keponakan nya dengan erat. Aku tak sanggup untuk melihat saat Kiyoshi memasangkan cincin. Aku berlari keluar, berlari sejauh yang aku bisa. Aku berhenti, lelah rasa nya. Isak tangis pun menghampiri. Tiba-tiba ada yang menarikku dari belakang dan memeluk ku erat. "maaf, aku yang bodoh telah meninggalkanmu", kata suara yang sangat kukenal. Itu suara Kiyoshi, apa yang dilakukannya disini? Bagaimana dengan pertunangannya? Aku melepaskan diri dari pelukan nya. "apa yang kau lakukan disini? Cepat kembali", kataku sambil mendorongnya. "tidak, dan tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi", kata Kiyoshi yang membuatku cukup bahagia. "tapi bagaimana dengan pertunanganmu?", tanyaku. Kiyoshi menceritakan padaku. Saat aku berlari pergi. Lisa dengan berani menghampiri Kiyoshi, sambil marah Lisa menceritakan semuanya. Lalu Obama datang menghampiri Kiyoshi dan menyuruh nya untuk pergi mengejarku. Ternyata Obama telah mengetahui hubungan kami dari awal. "Lalu bagaimana dengan dia?", tanyaku. Kiyoshi bercerita kembali. Ternyata tunangan Kiyoshi sudah tahu semuanya. Cuma dia berpura-pura tidak tahu. Dan berharap agar Kiyoshi dapat kembali padanya. Tapi pada akhirnya dia membiar kan kiyoshi untuk memilih. Kiyoshi pun berlari pergi dan mengejar ku.

2 tahun kemudian. . .

"selamat ya ka", seorang juniorku memberi selamat atas kelulusan ku diperguruan tinggi. "terima kasih", kataku. Akhirnya aku lulus bersama sahabat baik ku Lisa. Hmm, kemudian hubungan ku dengan Kiyoshi berjalan baik walaupun kadang suka berkelahi karena masalah kecil. Kami masih pacaran, Kiyoshi ingin melamarku saat aku lulus. Tapi aku menolak, karena aku masih ingin menikmati masa muda ku. Aku masih ingin bekerja dan bersenang-senang. Setelah lulus ini aku berencana pulang ke Indonesia untuk bertemu orang tua ku selama beberapa bulan. Lalu kembali lagi ke Jepang untuk bekerja.
Lalu mantan calon tunangan Kiyoshi kini sudah menikah dengan anak teman Obama. Sekarang mereka sedang honeymoon kedua diHawai.
Dan Kiyoshi sekarang sudah menjadi direktur dari perusahaannya yaitu produksi pakaian cosplay yang sudah mendunia. Dia sangat sibuk sekarang, jarang ada waktunya untuk menemaniku.

Akhirnya harinya tiba juga. Aku dan Lisa akan segera pulang ke kampung halaman kami. Kiyoshi mengantar kami tapi hanya sampai depan saja. Sungguh pacar yang kejam.
Setelah beberapa hari di Indonesia rasanya kangen dengan Kiyoshi. Aku dirumah hanya membantu orang tua ku. Aku sedang senggang jadi aku berada diluar saat sore hari. Hah aku terkejut ada yang melambai padaku dari jauh. Dan sepertinya aku kenal itu adalah Kiyoshi. Dia semakin mendekat aku hanya menatapnya seakan tak percaya. Lalu kataku masih terkejut, "ini kamu Kiyoshi? Apa yang kamu lakukan disini?". Dia langsung memeluk ku dan berkata, "karena aku terlalu rindu padamu. Rasanya sepi. Tapi sekarang aku bisa memeluk mu". Aku segera melepaskan pelukannya, "ini diIndonesia, jangan peluk aku sembarangan. Lagi pula disini ada orang tuaku". Rasanya gugup untuk memperkenalkan Kiyoshi pada orang tua ku karena sebelumnya aku hanya cerita saja. Aku takut orang tua tak akan suka. Aku mengajak Kiyoshi masuk dan memperkenalkan nya pada orang tua ku. Tapi tampak nya mereka senang walau pembicaraannya sedikit tidak nyambung. Yaa mau tidak mau aku lah sebagai penerjemah. Kiyoshi hanya seminggu di Indonesia lalu kembali lagi.
Sejak hari itu hingga Kiyoshi sering bolak balik Jepang-Indonesia. Dan Kiyoshi semakin akrab dengan orang tuaku. Orang tuaku menyukainya dan menyuruh untuk sering main keIndonesia. Sampai akhirnya aku kembali ke Jepang, dia masih saja sering mengajak ku untuk pulang menemui orang tua ku. Dan akhirnya orang tua ku menyuruh kami untuk ke jenjang yang lebih serius Kiyoshi tampak senang. Tak berapa lama Kiyoshi menyawa restoran mewah dan melamarku. "aku bahagia dan senang bisa terus bersamamu. Keinginan terbesarku adalah hidup berdampingan dengan mu, Kiyoshi", kataku. Dan Kiyoshi tersenyum dengan sangat bahagia. Aku melanjutkan, "tapi maaf, saat aku belum siap dan belum ingin menikah". . . .

THE END