saat aku dipanggil walikelas ku, darah ku terasa panas dan ini cukup membuat aku gugup, karena aku tahu akan terjadi hal yang cukup buruk terhadapku. Dan itu terbukti setelah aku tepat berada didepan nya, aku tak bisa membuka mulut ku atau pun bersikap biasa. Sampai akhirnya sang guru mulai bicara "kenapa hari senin tidak masuk?, padahal kamu sudah janji akan hadir". Lalu saat itu juga otak mulai berjalan dah ku katakan bahwa ''ternyata hari itu pesawat nya berangkat pagi'', kemudian sang guru menjejali pertanyaan berikut yang mampu membuat semakin gugup. ''kenapa kamu lari saat melihat ibu dan kemana kamu? Kenapa tidak pergi kekelas?'' wah pertanyaan ini sungguh membuat hampir tak bisa bicara, yah karena tak bisa mengatakan apa pun lagi selain berkata jujur bahwa aku pergi karena diajak vivien kekopsis dan setelah dia datang semua murid telah masuk, jadi maksud perkataan ku adalah haruskah aku tetap ditempat tanpa seorang yang ada disana? Kurasa ini cukup untuk membuat ku mengelak dan sekailigus meyakin kan dia bahwa aku tidak menghindar. Dan aku dijejali pertanyaan berikut nya yang sungguh membuat ku terdiam dan tak bisa berpikir tentang hal apapun itu. ''kenpa kamu diIS sedangkan teman-teman mu ada diatas dan sedang belajar. Kapan kamu mau berubah? Dulu saat kamu kelas dua juga begitu. Dan sudah ibu nasehati tapi kamu masih seperti ini. Sekarang kamu sudah kelas tiga. Kapan kamu akan berubah?" kata-kata ini menyadarkan ku dan aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain diam, dan tak berani menatap kearah matanya yang begitu tajam, bahkan mungkin bisa menusukmu sampai darahmu mengalir deras. Dari itu saat perjalanan kembali aku memikirkan banyak hal, karena sebenar nya sungguh menyadarkan aku yang tak pernah berubah sedikit pun, tak pernah dewasa dan selalu bersikap kekanakan. Harusnya aku berpikir sedikit kedepan. Lalu aku pun berpikir bahwa aku terlalu memikirkan pandangan orang lain terhadap ku, gengsi ku terlalu tinggi, dan hal buruk yang merupakan kenyataan akan merusak image ku yang baik padahal ini memang bukan preoritas utama dalam hidupku. Pikirkan masa depan mu bodoh, kata hatiku padaku. Tapi jujur aku merasa ada yang aneh, teman sebangku ku cuktp untuk mendiamiku, bahkan untuk menegurku pun tidak. Aku juga merasa beberapa sahabat ku begitu jauh jarak nya dariku. Dengan begini aku merasa lengkap sudah tekanan batin yang kuterima aku sungguh merasa sendiri di dunia ini. Sebenarny apa kesalahan yang telah kulakukan pada setiap orang didunia ini sehingga mereka bisa membuat aku merasa terperosok kelubang yang paling dalam.
Sampai hari ini pula aku masih tidak menemukan jalan untuk berjalan nenuju kedewasaan. Harus memulai dari mana untuk mengakhiri kebodohanku? Harus dari mana aku memulai untuk beranjak dewasa? Harus dari mana aku memulai untuk mengawali hidupku yang lebih baik? Harus dari mana aku memulai untuk menciptakan dunia baru yang lebih baik? Dan apakah aku memang seharusnya menciptakan dunia baru, atau aku yang harus menciptakan diriku yang baru? Atau memang seharusnya aku tak harus menciptakan apapun? Atau yang kuperlukan hanya merubah/merombaknya saja?
Beribu pertanyaan yang muncul dari benak ku dan aku tak bisa menjawabnya satu pun sehingga sekarang aku duduk didepan kelas ku seorang diri seperti orang bodoh karena memikir hal ini. Aku merasa perlu mencari orang yang tepat untuk menceritakan hal ini. Apakah ada salah satu diantara sahabatku atau aku akan menemukan orang asing yang biasa membuat ku melampiaskan nya seperti cerita novel yang baru kubaca. Oh khayalan bodoh ku mulai bermain disekitar ku. Sadar lah itu hanya karangan orang, dan tak mungkin menjadi nyata. Dan kenyataan nya aku berharap akan menumakan orang misterius yang aneh dalam kehidupan nyataku dan melampiaskan nya dan ternyata pula aku akan segara mencarinya. Ini mungkin yang tidak membuatku berubah, tidak bisa menangani keinginan bodoh ku yang tidak masuk akal, tak pernah menyaring setiap perkataan ku. Sungguh bodoh.
Sekarang ini membuat ku lebih baik. Blog ternyata juga berguna untuk melampiaskan nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar